JAKARTA, KOMPAS.com - Tokoh agama dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Yanto Jaya, mengaku prihatin akan banyaknya bentuk kekerasan yang terjadi terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Ia melihat ada empat faktor utama yang menyebabkan persoalan TKI terus saja bermunculan. Salah satunya yakni, sikap pemerintah yang tidak peduli akan nasib TKI dan selalu mengaitkannya ke persoalan diplomasi.
"Pertama, kemampuan bahasa yang di bawah standar dan tingkat pendidikan yang tidak memenuhi syarat. Ini juga jadi kendala sehingga di lapangan, saat tidak terjadi komunikasi, berlangsung tidak baik dan akan terjadi penyiksaan," ucap Yanto, Kamis (25/11/2010), dalam dialog "Tokoh-tokoh Agama Menyikapi Masalah Bangsa", di PP Muhammadiyah, Jakarta.
Kedua, Yanto melanjutkan, adalah soal perlindungan TKI yang sangat lemah. "Berbeda dengan Filipina yang sangat melindungi TKI. Dia punya biro hukum di tiap negara, kalau ada masalah tenaga kerja bisa diadukan ke sana dan langsung ditindak, sementara di Indonesia tidak demikian," ucap Yanto.
Faktor ketiga adalah sikap aparat kedutaan serta konsulat jenderal di luar negeri yang selalu mempermasalahkan persoalan buruh yang selalu dihubungkan dengan masalah diplomatik. "Jangan dikaitkan ke sini. Ini negara ada WNI yang harus dilindungi jangan malah takut karena nanti diplomasi buruk. Memperlihatkan tidak ada kepeduliannya," ucap Yanto.
Oleh karena itu, ia mengusulkan setiap kedutaan dan konsulat jenderal (konjen) mendirikan biro hukum untuk warga negara. Selain itu, ungkap Yanto, Lembaga Swadaya Masyarakat juga perlu dilibatkan dalam biro tersebut karena merekalah yang paling mengerti kondisi di lapangan para tenaga kerja Indonesia yang ada di luar negeri.
Belakangan, pemerintah memang tengah didesak untuk segera mengambil sikap simpatik dalam membela hak-hak TKI di luar negeri. Desakan ini semakin kuat setelah muncul dua kasus TKI yang mengalami kekerasan yakni Sumiati (23) dan Kikim Komalasari (36). Sumiati, asal NTB, dianiaya oleh majikannya hingga terluka parah dan dirawat di rumah sakit. Sedangkan jasad Kikim Komalasari, asal Cianjur, Jawa Barat, ditemukan di pinggir jalan pada 11 November 2010 di daerah Abha, Jeddah. Ia tewas karena disiksa oleh majikannya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang