Keluarga TKW Mengadu

Kompas.com - 28/11/2010, 03:07 WIB

Banyumas, Kompas - Keluarga dua tenaga kerja wanita asal Banyumas yang hilang belasan tahun ini berharap pemerintah bersedia membantu mencari jejak keduanya. Mereka mengaku sudah tidak tahu lagi bagaimana melacak keberadaan anggota keluarga mereka itu.

”Saya sudah habis-habisan untuk mencari di mana anak saya. Becak untuk kerja pun sudah saya jual, tapi semuanya tetap buntu,” ujar Rakum (55), ayah Eri Supriani (25), tenaga kerja wanita (TKW) asal Desa Kutasari, Kecamatan Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (27/11).

 Hal senada dikatakan Muhtarom, kakak salah satu TKW bernama Kuswati.

Hampir 20 tahun adiknya menghilang, tapi tak ada bantuan dari pemerintah untuk mencari keberadaan Kuswati.

Pihak pengerah jasa tenaga kerja Indonesia dan dinas tenaga kerja seolah lepas tangan. Muhtarom juga pernah menyurati Konsulat Jenderal RI di Jeddah, tapi hanya dibalas dengan pemberitahuan bahwa tidak ada TKI yang bernama Kuswati di sana.

 ”Kami ini kan masyarakat Indonesia. Mengapa sama masyarakatnya pemerintah tak mau membantu?” ucapnya.

Perusahaan tutup

Pada Februari 1999, Eri menjadi TKW melalui PT Amira Prima, perusahaan jasa TKI yang beralamat di Jakarta Barat. Eri kala itu diberangkatkan sebagai TKW ke Malaysia.

Namun, sudah 11 tahun lebih keluarga Eri tak dapat menghubungi gadis yang saat berangkat ke Malaysia masih duduk di kelas II sekolah menengah pertama tersebut.

Seorang TKW lain yang tak diketahui keberadaannya adalah Kuswati (kini berusia sekitar 38 tahun) asal Desa Kaliwedi, Kecamatan Kebasen, Banyumas. Kuswati berangkat ke Arab Saudi pada Oktober 1992 dan hingga kini tak diketahui alamat serta kabarnya.

Rakum menuturkan, dia pernah melaporkan ketiadaan kabar putrinya ke kelurahan, kecamatan, kepolisian, hingga kantor dinas tenaga kerja setempat. Namun, hingga saat ini tak ada tindak lanjut.

Empat kali sudah Rakum mencari anaknya ke Jakarta pada periode 1999-2003. Kala itu dia mendatangi lokasi penampungan dan kantor PT Amira Prima.

Alih-alih mendapatkan informasi tentang putrinya, tempat penampungan dan perusahaan yang memberangkatkan Eri sudah berganti nama dan mengaku tak tahu-menahu mengenai Eri.

”Pengerah tenaga kerja di sini pernah saya ajak bicara di kantor Depnaker sini, tapi mereka malah mengatakan anak saya yang tidak benar. Katanya, Eri malah pergi dibawa pacarnya. Padahal, itu jelas tidak benar,” kata Rakum.

Kantor PT Duta Perwata, perusahaan pengerah jasa TKI di Banyumas yang dulu merekrut Eri untuk dibawa ke PT Amira Prima di Jakarta, pun saat ini tak jelas lagi.

Padahal, sebagai orangtua, Rakum tak pernah setuju anaknya diberangkatkan sebagai tenaga kerja wanita.

”Tapi karena dibujuk dan saat itu saya tak ada di rumah, anak saya akhirnya mau. Pulang-pulang anak saya sudah tidak ada di rumah. Dia masih berusia 14 tahun waktu itu. Waktu saya temui di penampungan, pihak PT tak memperbolehkan saya membawa pulang,” katanya.

Kini Rakum hanya bisa berharap kepada pemerintah untuk membantu mencari keberadaan putrinya itu.

”Penginnya pemerintah membantu. Tapi, apa mau mereka membantu wong cilik seperti kami?” tanya Rakum pesimistis walau masih tetap berharap.(HAN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau