Banyumas, Kompas -
”Saya sudah habis-habisan untuk mencari di mana anak saya. Becak untuk kerja pun sudah saya jual, tapi semuanya tetap buntu,” ujar Rakum (55), ayah Eri Supriani (25), tenaga kerja wanita (TKW) asal Desa Kutasari, Kecamatan Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (27/11).
Hal senada dikatakan Muhtarom, kakak salah satu TKW bernama Kuswati.
Hampir 20 tahun adiknya menghilang, tapi tak ada bantuan dari pemerintah untuk mencari keberadaan Kuswati.
Pihak pengerah jasa tenaga kerja Indonesia dan dinas tenaga kerja seolah lepas tangan. Muhtarom juga pernah menyurati Konsulat Jenderal RI di Jeddah, tapi hanya dibalas dengan pemberitahuan bahwa tidak ada
”Kami ini kan masyarakat Indonesia. Mengapa sama masyarakatnya pemerintah tak mau membantu?” ucapnya.
Pada Februari 1999, Eri menjadi TKW melalui PT Amira Prima, perusahaan jasa TKI yang beralamat di Jakarta Barat. Eri kala itu diberangkatkan sebagai TKW ke Malaysia.
Namun, sudah 11 tahun lebih keluarga Eri tak dapat menghubungi gadis yang saat berangkat ke Malaysia masih duduk di kelas II sekolah menengah pertama tersebut.
Seorang TKW lain yang tak diketahui keberadaannya adalah Kuswati (kini berusia sekitar 38 tahun) asal Desa Kaliwedi, Kecamatan Kebasen, Banyumas. Kuswati berangkat ke Arab Saudi pada Oktober 1992 dan hingga kini tak diketahui alamat serta kabarnya.
Rakum menuturkan, dia pernah melaporkan ketiadaan kabar putrinya ke kelurahan, kecamatan, kepolisian, hingga kantor dinas tenaga kerja setempat. Namun, hingga saat ini tak ada tindak lanjut.
Empat kali sudah Rakum mencari anaknya ke Jakarta pada periode 1999-2003. Kala itu dia mendatangi lokasi penampungan dan kantor PT Amira Prima.
Alih-alih mendapatkan informasi tentang putrinya, tempat penampungan dan perusahaan yang memberangkatkan Eri sudah berganti nama dan mengaku tak tahu-menahu mengenai Eri.
”Pengerah tenaga kerja di sini pernah saya ajak bicara di kantor Depnaker sini, tapi mereka malah mengatakan anak saya yang tidak benar. Katanya, Eri malah pergi dibawa pacarnya. Padahal, itu jelas tidak benar,” kata Rakum.
Kantor PT Duta Perwata, perusahaan pengerah jasa TKI di Banyumas yang dulu merekrut Eri untuk dibawa ke PT Amira Prima di Jakarta, pun saat ini tak jelas lagi.
Padahal, sebagai orangtua, Rakum tak pernah setuju anaknya diberangkatkan sebagai tenaga kerja wanita.
”Tapi karena dibujuk dan saat itu saya tak ada di rumah, anak saya akhirnya mau. Pulang-pulang anak saya sudah tidak ada di rumah. Dia masih berusia 14 tahun waktu itu. Waktu saya temui di penampungan, pihak PT tak memperbolehkan saya membawa pulang,” katanya.
Kini Rakum hanya bisa berharap kepada pemerintah untuk membantu mencari keberadaan putrinya itu.
”Penginnya pemerintah membantu. Tapi, apa mau mereka membantu wong cilik seperti kami?” tanya Rakum pesimistis walau masih tetap berharap.(HAN)