Musik

Memori KLa dan Ruth Sahanaya

Kompas.com - 28/11/2010, 03:18 WIB

FRANS SARTONO

Ruth Sahanaya dan KLa Project ikut memberi warna baru di pentas musik pop pada paruh kedua era 1980-an dan awal 1990-an. Mereka masing-masing berkonser di Jakarta di tengah belantika musik pop yang telah berubah.

Lagu ”Yogyakarta” dari KLa itu terdengar sebagai koor massal penonton dalam konser ”Exellentia” dari KLa Project, Jumat (26/11) malam di ball room Central Park Jakarta. Orang-orang melebur dalam satu suara melantunkan refrein lagu yang populer pada awal tahun 1990-an itu ”.... namun kotamu hadirkan senyummu abadi/ Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi....”

Sehari sebelumnya, suasana serupa juga terasa dalam ”Ruth Sahanaya 25th Anniversary Concert” di Jakarta Convention Center, Kamis (25/11) malam. Lagu ”Memori” dinyanyikan bersama-sama oleh sekitar 3.000 penonton. ”Memori kau membuka luka lama/ Yang ’ku ingin lupa/ Memori tolong daku pergi jauh/ Janji tak ’kan kembali ... memoriiii....”

Salah satu penanda konser yang berhasil adalah ketika penonton seperti tersihir oleh lagu, lalu bernyanyi bersama-sama tanpa dikomando. Mereka setidaknya mempunyai memori auditif cukup kuat—bisa dibaca kenangan—atas lagu-lagu.

”’Memori’ itu lagu kami waktu pacaran,” kata Nuning Cahyaningtyas (42) yang malam itu datang bersama suaminya, pacarnya dulu.

Dan marilah kita buka catatan pentas musik pada paruh kedua 1980-an. Ruth Sahanaya dan KLa Project muncul pada waktu yang hampir bersamaan, yaitu paruh kedua era 1980-an. Ruth lebih dahulu populer, yaitu pada tahun 1987, lewat lagu ”Astaga” dan ”Memori”.

Pada masa sebelum mereka muncul, lagu-lagu karya Rinto Harahap, Obbie Mesakh, dan Oddie Agam merajalela. Perusahaan rekaman JK Records masih mempunyai penyanyi-penyanyi cantik seperti Meriam Bellina, Dian Piesesha, sampai Ria Angelina. Jangan lupa, Rano Karno pun bernyanyi dan terkenal pula. Antara lain lewat lagu ”Bukalah Kacamatamu”. Agak berbeda dengan mereka, terdengar suara Vina Panduwinata.

Di tengah-tengah mereka, pada tahun 1987 muncul rasa baru dari penyanyi mungil bersuara lantang dan lincah, yaitu Ruth Sahanaya. Karakter suara, cara bernyanyi, dan lagu-lagu yang dibawakan Ruth memberi rasa lain. Ingat lagu ”Astaga” dan ”Memori”.

Kita tengok lagi. Saat itu band rock seperti God Bless sedang terkenal dengan lagu ”Kehidupan”, ”Rumah Kita”, dan ”Semut Hitam”. Kemudian ada Karimata dan Krakatau yang saat itu disebut-sebut sebagai pembawa lagu jazz. Krakatau populer dengan lagu-lagu seperti ”Kau Datang” dan ”Gemilang” yang dibawakan vokal Trie Utami.

Band pop bisa dikatakan nyaris tak terdengar. Pada pengujung era 1980-an muncul KLa Project dengan lagu ”Tentang Kita” yang memberi alternatif dengaran baru di kancah musik pop masa itu. Berawak Katon, Lilo, Adi, serta Ari, KLa membawa pengaruh-pengaruh rasa New Wave jenisnya Duran Duran dan A-Ha.

Integritas

Ruth Sahanaya dan KLa dalam konser membuktikan kemampuan dan integritas masing-masing sebagai seniman musik. Dalam konser, Ruth Sahanaya (44) terbukti masih tangguh meski suara mezosopran-nya tak seprima era 1980-an.

Pada awal konser suaranya sempat terkesan kurang bertenaga dan ia sangat kaku berkomunikasi dengan penonton.

Namun, jam terbang dan kemampuan vokal Ruth kemudian yang berbicara. Ibarat mesin diesel, seturut konser melaju ia makin panas dan mampu bernyanyi selama sekitar tiga jam dan berkomunikasi dengan nyaman, spontan, dan hangat langsung di depan publik. Artinya, ia bukan jenis penyanyi kandang yang hanya bisa nyanyi di rekaman, di televisi atau RBT ”doang”. Menandai 25 tahun kiprahnya di jagat musik, Ruth membuat album Thankful produksi Nagasawara.

KLa juga membuat album kesepuluh Exellentia. Album ini dirilis setelah sepuluh tahun dari album terakhir mereka, yaitu Klasik (2000). KLa memahami selera pendengar telah berubah. Misalnya dalam hal lirik, kini menurut Katon, pendengar muda cenderung menyukai bahasa yang lugas. Sementara KLa dulu terkesan ingin menulis lirik puitis, romantis.

”Kami mencoba berbicara dengan bahasa mereka, yaitu dengan main lirik dengan bahasa lugas, tanpa kiasan, tapi tetap puitis,” kata Katon.

Ia, misalnya, masih suka menggunakan kiasan dengan metafor-metafor alam. Seperti pada lagu ”Cinta (Bukan) Hanya Kata: ”Angin yang membelai/rengkuh kita di pantai”. Cara berekspresi semacam itu sudah menjadi gaya khas lirik KLa yang ditulis KLa seperti pada ”Tak Bisa ke Lain Hati” : ”bulan merah jambu luruh di kotamu ....

Menikmati angin menebar daun-daun”.

”Sisi romantisme ini memang tantangan KLa. Walau tak se- complicated dulu, tapi kami usahakan makna tetap puitis,” tutur Katon dengan memberi contoh lirik lagu

”Seandainya dunia berhenti berputar/ Hati tetap kujaga...”

Untuk menyikapi pendengar hari ini, KLa juga mempertimbangkan soal beat yang berasa disko seperti pada ”Revolusi Disco”. Pertimbangannya, kini beat disko tren kembali. ”Musik berputar ke zaman dulu. Anak-anak kini suka yang ke-70-an,” kata Katon.

Kecenderungan semacam itu sudah lazim dalam belantika musik. Bee Gees pernah memasuki era disko pada paruh kedua era 1970-an dengan lagu ”Staying Alive” dan ”You Should Be Dancing”. Bee Gees saat itu terbukti mampu dengan kreatif menyambut zaman yang telah berganti.

”KLa sesadar mungkin mengamati pasar. Tapi, kata hati tetap kami beri ruang,” kata Katon tentang sikap dan komitmennya pada profesi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau