Istana Gebang Jadi Museum Bung Karno

Kompas.com - 28/11/2010, 09:01 WIB

BLITAR, KOMPAS.com — Pemerintah Kota Blitar, Jawa Timur, akan meminta bantuan anggaran dari dana APBN untuk memugar kompleks Istana Gebang, rumah masa kecil Presiden Bung Karno, menjadi bangunan museum.

“Khusus bangunan induk tetap dibiarkan seperti semula,” ujar Wali Kota Blitar Samanhudi, terkait kepastian pembelian Istana Gebang oleh Pemkot Blitar dan Pemprov Jatim dari pihak ahli waris seharga Rp 35 miliar. 

Menurut Samanhudi, di Museum Bung Karno nanti secara khusus akan dipajang benda-benda dan peninggalan yang terkait kehidupan Bung Karno sejak masa kecil sampai akhir hayatnya.

“Banyak sekali benda dan barang peninggalan Bung Karno yang tersebar di mana-mana. Nanti kami kumpulkan di museum,” ujarnya.

Usaha menghimpun peninggalan Bung Karno tersebut tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit sehingga Pemkot Blitar perlu meminta tambahan anggaran dari APBN. Selain itu, pemindahan barang ke Blitar dipastikan juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Samanhudi mencontohkan, pemindahan koleksi pesawat tempur yang dibeli semasa pemerintahan Bung Karno dari Yogyakarta ke Blitar bakal membutuhkan biaya besar. Demikian pula untuk menghimpun peninggalan lainnya, mulai dari sepeda, sepeda motor, hingga mobil yang pernah digunakan Bung Karno, semua ini membutuhkan sejumlah biaya.

Keberadaan Museum Bung Karno nanti diharapkan semakin melengkapi paket wisata sejarah yang ada di Kota Blitar, selain makam Bung Karno di Bendogerit.

Di areal Istana Gebang ini, setiap tanggal 6 Juni diselenggarakan haul dan berbagai macam kesenian yang selalu didatangi banyak pengunjung.

Salah satu acara tahunan yang digelar Pemkot Blitar itu adalah Grebeg Pancasila. Keluarga Soekarno juga masih sering berkumpul di istana ini.

Sebelumnya, Gubernur Jatim Soekarwo memang telah berencana untuk membeli Istana Gebang dari ahli waris. Pembelian Istana Gebang dimaksudkan untuk melestarikan bangunan bersejarah yang ada di Jatim.

Gubernur berharap, seluruh bangunan bersejarah yang ada di Jatim bakal dilestarikan, apalagi di Jatim terdapat makam tokoh-tokoh penting. Selain makam Bung Karno di Blitar, ada makam mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Jombang.

Sementara itu, Kabag Humas Pemkot Blitar M Hadi Maskun menambahkan, pemerintah pusat akan mengucurkan anggaran sekitar Rp 100 miliar untuk keperluan renovasi bangunan Istana Gebang. “Mudah-mudahan anggaran untuk renovasi tidak meleset,” harapnya. (DIM/ARU)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau