Hewan langka

Inkubator Komodo, Seperti Apa Itu?

Kompas.com - 29/11/2010, 08:09 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekarang, komodo-komodo di ragunan memiliki sebuah inkubator. Bukan untuk si komodo, melainkan bagi telur-telur reptil asli Nusa Tenggara itu. Minggu (28/11/10), inkubator tersebut secara resmi digunakan di Kebun Binatang Ragunan oleh para pegiat komodo.

Seperti apa inkubatornya, yang jelas tak sama dengan inkubator untuk manusia, meski memiliki beberapa kemiripan. Inkubator berbentuk kotak dengan bagian luarnya terbuat dari bahan kayu, dilengkapi dengan kaca di bagian atasnya.

Sementara itu, di bagian dalam terdapat beberapa alat yang berfungsi untuk memantau kondisi lingkungan di dalam inkubator. "Ada termometer untuk memantau suhu serta thermohigrometer untuk memantau suhu dan kelembaban," ungkap Sukedi Saleh, pegiat komodo yang juga koordinator perawatan komodo Kebun Binatang Ragunan.

Sebagai sumber panas, lampu-lampu dipasang di dalam inkubator. Panas lampu akan memastikan temperatur inkubator optimal untuk perkembangan embrio dalam telur, antara 28 hingga 35 derajat celsius. Ada juga sprayer berisi air untuk menjaga kelembaban optimal dalam inkubator.

Di dalam inkubator, telur komodo diletakkan di dalam kotak-kotak berbahan plastik. Bagian dalam plastik diberi media pasir khusus yang berfungsi untuk membantu proses penetasan telur reptil. Jumlah telur yang diletakkan dalam inkubator kurang lebih sebanyak 100 buah, berasal dari 10 indukan.

Sepintas, inkubator ini tampak sederhana, tetapi memberi manfaat yang besar. "Inkubator berguna untuk membantu perkembangan telur, sehingga lebih banyak telur yang menetas," ungkap Sukedi yang akrab disapa Edi. Ia mengungkapkan, faktor yang paling berpengaruh terhadap perkembangan telur adalah suhu dan kelembaban.

Pembuatan inkubator komodo ini adalah cetusan Zeby Febrina, pegiat komodo yang kini juga aktif mempromosikan Pulau Komodo sebagai salah satu keajaiban dunia. Pembuatannya sendiri dilatarbelakangi oleh masalah yang terjadi dalam proses penetasan telur komodo.

"Sampai sekarang, penetasan komodo masih menjadi masalah. Faktor perubahan iklim adalah penyebabnya," ucap Zeby. Ia mengatakan, curah hujan menyebabkan banyak telur komodo membusuk hingga hanya beberapa saja yang berhasil menetas. "Karena itulah saya punya ide membuat inkubator ini," lanjutnya.

Zeby mengatakan, inkubator tersebut adalah hasil kerja swadaya para pegiat komodo yang terdiri dari dirinya beserta para perawat komodo di Kebun Binatang Ragunan. Diharapkannya, walaupun masih sederhana, inkubator tersebut bisa mengatasi masalah penetasan yang selama ini terjadi.

Selama masa telur diinkubasi, suhu dan kelembaban dalam inkubator harus tetap dikontrol 2 kali sehari. "Jadi kalau misalnya kelembabannya kurang, harus disemprot air sehingga mencapai kelembaban yang diinginkan," kata Edi. Telur komodo sendiri kurang lebih akan berada dalam inkubator selama 8 bulan, masa yang dibutuhkan bagi embrio dalam telur untuk menetas.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau