Rahasia amerika

WikiLeaks Juga Bisa "Pukul" Belanda

Kompas.com - 30/11/2010, 02:37 WIB

KOMPAS.com - "Suatu pukulan telak bagi diplomasi Amerika." Demikian penilaian mantan Menteri Luar Negeri Belanda, Ben Bot, mengenai publikasi korespondesi rahasia di antara diplomat Amerika Serikat.

Sebagian dokumen rahasia itu dibocorkan situs WikiLeaks dan nama Belanda disebut hampir 2.500 kali. Ben Bot menjadi menteri luar negeri selama 2003-2007, periode yang mencakup saat Belanda memutuskan ikut mengirim tentara ke Irak dan Afghanistan.

Tidak pelak lagi, hal itu merupakan topik pembicaraan penting antara Kedutaan Besar Amerika di Den Haag dan Departemen Luar Negeri Amerika di Washington.

Suatu data statistik yang diterbitkan oleh mingguan Jerman, Der Spiegel, juga menunjukkan meningkatnya lalu lintas pengiriman berita pada masa hangatnya diskusi mengenai Irak dan Afghanistan.

Mengenai isi beritanya, hingga sekarang belum banyak yang diketahui. Perlu menunggu Wikileaks mempublikasikan korespondensi para diplomat Amerika dengan kedutaan besar mereka di Den Haag.

Menjawab pertanyaan Radio 1 Journaal (NOS) mengenai dampak pembocoran berbagai dokumen tersebut, Ben Bot menyatakan, dalam tempo dekat ini, dampaknya akan negatif:

"Jika bertemu dengan diplomat Amerika, pejabat resmi di berbagai negara, menteri, pejabat tinggi, akan banyak menahan diri. Mereka tentunya akan berpikir, apa yang saya katakan sekarang ini, beberapa tahun kemudian akan jadi rahasia umum. Jadi, lebih baik menahan diri saja. Dan ini, bagi diplomasi Amerika, dalam waktu dekat ini, akan merupakan tamparan telak," katanya.

Gejala menahan diri ini, menurut Ben Bot, bukan hanya merugikan kebijakan politik Amerika, tapi juga merugikan kebijakan politik luar negeri di seluruh dunia.

Beberapa dokumen yang bocor memang memuat banyak kutipan yang bisa membuat malu Amerika. Misalnya menyebut Presiden Rusia Medvedev dan Perdana Menteri Putin sebagai Robin dan Batman. Tanggapan Ben Bot mengenai hal ini:

"Tentu saja itu tidak bijaksana. Bahkan bagi seorang diplomat yang sedang mengirim berita rahasia secara, secara blak-blakan. Seorang diplomat seyogyanya tidak menggunakan sebutan seperti itu."

Sekutu Setia
Nama Belanda kadang disebut dalam berbagai dokumen yang telah dipublikasikan sekarang ini. Di antaranya campur tangan langsung Presiden Prancis, Sarkozy, mengenai diskusi di Belanda tentang kelangsungan misi militer di Afghanistan, pada masa jabatan terakhir Jan Peter Balkenende.

Dari dokumen lain terungkap penilaian positif Amerika pada Menteri Luar Negeri Belanda saat itu, Maxime Verhagen. Mereka menyebutnya sebagai sekutu setia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau