ISLAMABAD, KOMPAS.com - Seorang anggota suku Pakistan akan menuntut badan intelijen Amerika Serikat, CIA, sebanyak 500 juta dolar setelah putra dan saudaranya tewas dalam serangan pesawat tak berawak AS terhadap Al-Qaeda.
Karim Khan asal Waziristan Utara, daerah yang menjadi sasaran serangan AS, mengklaim rumahnya dihantam rudal-rudal AS pada 31 Desember 2009.
"Serangan pesawat tak berawak itu menewaskan putra saya, saudara saya dan seorang warga setempat. Kami bukan teroris, kami penduduk biasa," katanya pada jumpa pers bersama pengacaranya, Mirza Shehzad Akbar, Senin (29/11/2010).
Para pejabat intelijen Pakistan mengatakan, saat itu, empat militan tewas dalam serangan rudal AS di daerah Mir Ali. AS tidak mengkonfirmasi serangan pesawat tak berawak sesuai aturan mereka, namun militernya dan Badan Intelijen Pusat (CIA) merupakan satu-satunya kekuatan yang mengoperasikan pesawat tak berawak di kawasan tersebut.
"Menurut hukum Islam, darah harus dibayar dengan darah. Jika saya memiliki sarana, saya akan melakukan pembalasan atas serangan ini," kata Khan. "Kami membutuhkan keadilan. Kami orang-orang yang tidak bersalah."
Akbar mengatakan, ia akan mengajukan tuntutan itu di Pakistan, dan jika perlu, ke Mahkamah Internasional di Den Haag. "Ini bukan kasus politik, ini pengaduan pribadi," kata pengacara tersebut. "Kami akan menuntut pemerintah AS dan CIA kompensasi 500 juta dolar."
Jati-diri korban tewas dalam serangan pesawat tak berawak seringkali tidak bisa dikonfirmasi secara independen. Para pejabat AS mengobarkan perang dengan pesawat tak berawak terhadap para komandan Taliban dan Al-Qaeda di kawasan suku baratlaut, tempat militan bersembunyi di daerah pegunungan yang berada di luar kendali langsung pemerintah Pakistan.
Sejumlah pejabat Pakistan melaporkan, sedikitnya 21 serangan pesawat tak berawak AS menewaskan sekitar 120 orang pada September, bulan paling mematikan dalam serangan semacam itu.
Lebih dari 250 orang tewas dalam 48 serangan sejak 3 September, yang menyoroti ketegangan dengan Islamabad terkait dengan kecaman AS karena sejauh ini Pakistan tidak melancarkan ofensif darat ke Waziristan Utara.
Pejabat-pejabat AS mengatakan, pesawat tak berawak merupakan senjata sangat efektif untuk menyerang kelompok militan. Namun, korban sipil yang berjatuhan dalam serangan-serangan itu telah membuat marah penduduk Pakistan.
Lebih dari 1.150 orang tewas dalam lebih dari 140 serangan pesawat tak berawak di Pakistan sejak Agustus 2008, termasuk sejumlah militan senior. Namun, gempuran-tempuran itu telah mengobarkan sentimen anti-Amerika di negara muslim konservatif itu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang