Penjajahan

Korban Sipil Gugat CIA 500 Juta Dolar AS

Kompas.com - 30/11/2010, 04:45 WIB

ISLAMABAD, KOMPAS.com - Seorang anggota suku Pakistan akan menuntut badan intelijen Amerika Serikat, CIA, sebanyak 500 juta dolar setelah putra dan saudaranya tewas dalam serangan pesawat tak berawak AS terhadap Al-Qaeda.

Karim Khan asal Waziristan Utara, daerah yang menjadi sasaran serangan AS, mengklaim rumahnya dihantam rudal-rudal AS pada 31 Desember 2009.

"Serangan pesawat tak berawak itu menewaskan putra saya, saudara saya dan seorang warga setempat. Kami bukan teroris, kami penduduk biasa," katanya pada jumpa pers bersama pengacaranya, Mirza Shehzad Akbar, Senin (29/11/2010).

Para pejabat intelijen Pakistan mengatakan, saat itu, empat militan tewas dalam serangan rudal AS di daerah Mir Ali. AS tidak mengkonfirmasi serangan pesawat tak berawak sesuai aturan mereka, namun militernya dan Badan Intelijen Pusat (CIA) merupakan satu-satunya kekuatan yang mengoperasikan pesawat tak berawak di kawasan tersebut.

"Menurut hukum Islam, darah harus dibayar dengan darah. Jika saya memiliki sarana, saya akan melakukan pembalasan atas serangan ini," kata Khan. "Kami membutuhkan keadilan. Kami orang-orang yang tidak bersalah."       

Akbar mengatakan, ia akan mengajukan tuntutan itu di Pakistan, dan jika perlu, ke Mahkamah Internasional di Den Haag. "Ini bukan kasus politik, ini pengaduan pribadi," kata pengacara tersebut. "Kami akan menuntut pemerintah AS dan CIA kompensasi 500 juta dolar."

Jati-diri korban tewas dalam serangan pesawat tak berawak seringkali tidak bisa dikonfirmasi secara independen. Para pejabat AS mengobarkan perang dengan pesawat tak berawak terhadap para komandan Taliban dan Al-Qaeda di kawasan suku baratlaut, tempat militan bersembunyi di daerah pegunungan yang berada di luar kendali langsung pemerintah Pakistan.

Sejumlah pejabat Pakistan melaporkan, sedikitnya 21 serangan pesawat tak berawak AS menewaskan sekitar 120 orang pada September, bulan paling mematikan dalam serangan semacam itu.

Lebih dari 250 orang tewas dalam 48 serangan sejak 3 September, yang menyoroti ketegangan dengan Islamabad terkait dengan kecaman AS karena sejauh ini Pakistan tidak melancarkan ofensif darat ke Waziristan Utara.

Pejabat-pejabat AS mengatakan, pesawat tak berawak merupakan senjata sangat efektif untuk menyerang kelompok militan. Namun, korban sipil yang berjatuhan dalam serangan-serangan itu telah membuat marah penduduk Pakistan.

Lebih dari 1.150 orang tewas dalam lebih dari 140 serangan pesawat tak berawak di Pakistan sejak Agustus 2008, termasuk sejumlah militan senior. Namun, gempuran-tempuran itu telah mengobarkan sentimen anti-Amerika di negara muslim konservatif itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau