Perampokan

Menyaru, Membius, Lalu Mengambil Emas

Kompas.com - 02/12/2010, 11:19 WIB

DEPOK, KOMPAS.com - Hati-hatilah menghadapi orang tidak dikenal yang mendatangi rumah Anda. Dua orang yang menyaru sebagai peminta sumbangan, membius penghuni rumah, dan mengambil perhiasan emas. Mereka masuk ke rumah milik Yanto (30) di Jalan H Kodja IV Nomor 10 A, Kelurahan Kukusan, Kecamatan Beji, Kota Depok, ketika di dalam rumah hanya ada dua anak balita dan seorang pembantu perempuan.

Pembiusan itu terjadi setelah dua orang yang belum diketahui identitasnya masuk melalui pintu belakang. Ketika kepergok pembantu rumah bernama Satia (35), dua orang tersebut mendorong dan menyumpal hidungnya dengan kain berisi obat bius.

”Ketika saya masuk ke rumah Pak Yanto, pembantunya masih tergeletak di ruang tengah. Ada dua bayi yang berada di kamar, mereka tidak dibius. Sementara kondisi kamar utama di bagian depan rumah berantakan,” tutur Rizki (29), tetangga Yanto seusai kejadian, Rabu (1/12) di Depok, Jawa Barat.

Rizki tidak mendengar apa-apa ketika kejadian pembiusan dan perampokan berlangsung. Namun, ia baru bergegas ke rumah Yanto setelah mendengar istri Yanto bernama Herlina (28) berteriak histeris. Istri Yanto ketika kejadian sedang menjemput anak ketiganya bernama Sofia dari sekolah, sekitar 500 meter dari rumahnya.

Herlina berangkat menjemput Sofia pukul 09.30. Kurang dari 30 menit, Herlina kembali ke rumahnya, ketika itu pelaku perampokan dengan pembiusan sudah pergi dari lokasi.

”Kejadiannya cepat, orang yang masuk ke rumah Pak Yanto juga cepat pergi,” kata Rizki.

Kepala Kepolisian Sektor Metro Beji Ajun Komisaris Ngadi mengatakan, pelaku sepertinya sudah mengintai korban sebelum merampok dan membius. Indikasinya, pelaku tahu persis kondisi rumah sedang ditinggalkan Yanto dan Herlina. Pasangan suami-istri ini memiliki lima anak. Ketika kejadian, tiga anak mereka sedang berada di sekolahnya masing-masing.

Satia kepada penyidik mengatakan, pelaku terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Mereka langsung menuju pintu belakang, melalui jalan samping rumah, karena pintu utama terkunci. Di lokasi kejadian pelaku meninggalkan barang bukti, di antaranya sapu tangan berwarna putih.

Satia mengaku, setelah disumpal sapu tangan, dia menghirup bau wangi, kemudian mengantuk dan tertidur. Sementara barang berharga yang hilang berupa 25 gram emas dan sebuah telepon seluler buatan Korea.

”Kami masih mempelajari kasus ini. Di wilayah Kecamatan Beji, modus seperti ini tergolong baru,” kata Ngadi.

Ngadi meminta agar masyarakat meningkatkan kewaspadaannya, terutama kepada orang yang tidak dikenal. Menurut dia, di kawasan tersebut sistem keamanan lingkungannya sangat longgar. Kondisi inilah yang memungkinkan pelaku kejahatan melakukan aksinya.

Hajah Rohiah (65), tetangga Yanto, membenarkan lingkungannya memang biasanya sepi. Di tempat ini nyaris tidak ada lalu lintas kendaraan, kecuali penghuni kawasan tersebut. (NDY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau