Komisi pemberantasan korupsi

Busyro Datangi KPK untuk "Kulo Nuwun"

Kompas.com - 02/12/2010, 11:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Busyro Muqoddas mendatangi KPK pada pukul 09.50 WIB. Maksud dan tujuan kedatangannya adalah untuk bersilaturahim dengan empat unsur pimpinan KPK yang lain. "Kedatangan ini mau silaturahim. Kulo nuwun (datang permisi)," ucap Busyro, Kamis (2/12/2010), sebelum memasuki Gedung KPK di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta.

Ketika ditanya apakah maksud kedatangannya untuk membahas sejumlah kasus, Busyro menampiknya. Ia menegaskan bahwa pertemuan ini murni untuk silaturahim dan belum ada pembicaraan tentang penyelesaian kasus-kasus yang akan diprioritaskan, termasuk soal kasus Gayus Halomoan Tambunan. "Kulo nuwun dululah, saya kan orang baru. Untuk penyelesaian kasus ,saya harus mapping dulu," ungkap Busyro kepada para wartawan.

Di dalam mapping tersebut, lanjut Busyro, dirinya tidak hanya melakukannya untuk kasus-kasus tertentu. "Kasus lain nanti ditakar dulu dari bukti-bukti yang ada. Jelas patokannya," ungkap Busyro.

Busyro terpilih melalui voting di Rapat Paripurna DPR pada Kamis (25/11/2010). Ia mengalahkan calon unsur pimpinan KPK lainnya, yakni Bambang Widjajanto. Pada tahap kedua, Busyro yang merupakan mantan Ketua Komisi Yudisial ini kemudian terpilih lagi melalui sistem voting sebagai Ketua KPK mengalahkan empat unsur pimpinan KPK, yakni Bibit Samad Riyanto, Chandra M Hamzah, M Jasin, dan Haryono Umar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau