Pangan

RI Akan Impor 250.000 Ton Beras

Kompas.com - 02/12/2010, 14:16 WIB

NUSA DUA, KOMPAS.com - Indonesia akan menambah impor beras sebanyak 250.000 ton untuk menjaga ketahanan pangan di dalam negeri.

Demikian Menko Perekonomian Hatta Rajasa, usai membuka "Indonesia Palm Oil Conference and Outlook 2011," di Nusa Dua, Bali, Kamis (2/12/2010), menanggapi pertanyaaan wartawan tentang rencana pemerintah impor beras dari Thailand. "Ya ada tambahannya 250.000 ton lagi. Detailnya tanya ke Bulog," ujarnya.

Impor tersebut merupakan tambahan dari impor sebelumnya sebanyak 600.000 ton.

Ditambahkan, Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Diah Maulida menyatakan beras untuk Bulog itu akan impor dari Thailand dengan jenis beras premium yang pecahnya (broken) lima persen. "Tidak tepat 250.000 ton, tapi dekat itu," katanya tidak memberi angka persis jumlah impor beras yang dilakukan Indonesia.

Ia menegaskan impor tersebut merupakan tambahan dari impor beras sebelumnya sebesar 600.000 ton, yang sudah sudah masuk ke dalam negeri. Harga beras yang akan diimpor tersebut, diakuinya lebih mahal, karena termasuk kategori beras premium.

Diah mengatakan jika terealisasi impor pada akhir tahun ini maka total beras impor mencapai 850.000 ton.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau