Kasus gayus

Hanya Gratifikasi, Polri Tak Serius!

Kompas.com - 02/12/2010, 20:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com Kondisi bahwa Gayus Halomoan Tambunan hanya mendapat sangkaan menerima gratifikasi terkait uang senilai Rp 25 miliar dinilai semakin membuktikan bahwa Polri tidak serius menangani kasus itu serta melindungi pihak-pihak tertentu. Gayus seharusnya dikenakan pasal menerima suap.

"Penegak hukum lagi-lagi mendesain untuk mengerdilkan permasalahan dan melokalisasi pihak-pihak yang takut dijerat hukum jika pasal yang dikenakan ke Gayus pasal suap," kata peneliti ICW Donald Fariz ketika dihubungi pada Kamis (2/12/2010).

Donald menilai, tidak wajar bila Gayus hanya dikenakan pasal gratifikasi jika melihat keterangan yang dia sampaikan dalam berita acara pemeriksaan (BAP). Menurut Donald, di BAP, Gayus sudah menyebut perusahaan mana saja yang memberi uang, dengan siapa berhubungan, siapa yang memberi, dan kapan uang itu diberi. "Sudah jelas semua," ujarnya.

Donald tidak sependapat dengan pernyataan Polri yang menyebut bahwa penyidik tidak dapat menemukan bukti adanya suap dari perusahaan. Menurut dia, "Mereka tidak mau membongkar kasus seterang-terangnya. Kalau sampai diproses sedetail-detailnya, khawatir akan menjerat banyak kelompok. Kalau soal kemampuan, saya yakin Polri mampu."

"Kalau sudah tidak mau, sebesar apa pun alat bukti akan jadi sesuatu yang tidak bernilai bagi mereka yang tidak mau mengungkap," tambah dia.

Seperti diberitakan, Polri masih menyidik kepemilikan uang Rp 25 miliar yang tersimpan di berbagai rekening Gayus. Menurut Polri, tidak ada fakta yuridis adanya suap saat Gayus bekerja di Direktorat Jenderal Pajak. Oleh karena itu, penyidik mengenakan pasal gratifikasi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau