TEHERAN, KOMPAS.com - Iran membekuk sejumlah orang yang disebutnya di balik pembunuhan ahli nuklir dan berhubungan dengan badan spionase asing, menurut laporan stasiun televisi nasional yang mengutip Menteri Intelijen Iran Heydar Moslehi, Kamis 2/12/12010).
Penahanan itu dilakukan ketika kepala negosiator Iran, Saeed Jalili, sedang mempersiapkan untuk pembicaraan dengan kepala urusan luar negeri Uni Eropa Catherine Ashton di Jenewa pada 6-7 Desember. Itu pertemuan pertama antara Iran dan negara-negara barat setelah lebih dari setahun.
Pakar nuklir Majid Shahriyari tewas oleh serangan bom ke mobilnya di Teheran pada Senin, dan seorang ilmuwan nuklir lain terluka pada ledakan berbeda di dalam kota pada saat yang sama.
"Sebagian dari kelompok yang mendalangi serangan teroris belum lama ini telah tertangkap. Mossad, CIA dan MI6 telah memainkan perannya dalam insiden ini dan dengan menahan orang itu kami menemukan bukti-bukti baru," menurut siaran televisi yang mengutip Moslevi, mengkaitkan keterlibatan badan intelijen Israel, Amerika Serikat dan Inggris.
"Mereka yang bekerja sama dengan badan mata-mata itu... memiliki rencana lebih banyak, tetapi mereka telah dihentikan," tambahnya, tanpa memberikan jumlah orang yang ditahan atau informasi lainnya.
Tidak ada yang mengaku bertanggungjawab atas peledakan tersebut, tetapi para pejabat Iran mengatakan mereka para penyerang itu berusaha menghentikan program nuklir negeri Islam itu.
Iran sedang bertikai dengan negara barat atas program nuklirnya. Pihak barat khawatir kegiatan nuklirnya bertujuan untuk membuat bom tetapi Iran berulang kali menyangkal ini, mengatakan mereka hanya dibangun untuk membangkit listrik.
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad pada Rabu menuduh PBB menjadi kaki tangan dalam serangan bom itu. Ia menganggap negara-negara yang mengemukakan resolusi terhadap Teheran harus bertanggung jawab.
Bom kedua pada Senin melukai Fereydoun Abbasi-Davani yang mendapat sanksi PBB karena menurut Dewan Keamanan PBB ia terlibat dalam dugaan penelitian persenjataan nuklir.
Rival Iran, Amerika Serikat dan Israel, mengatakan mereka belum mengesampingkan kemungkinan serangan dini militer terhadap negara Islam tersebut supaya menghentikan upaya persenjataan nuklir bila usaha diplomasi gagal.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang