BBM ke Kontraktor di Ende Diduga Ilegal

Kompas.com - 03/12/2010, 06:57 WIB

ENDE, KOMPAS.com - Diduga sejumlah oknum di Depot Pertamina Kabupaten Ende, di Flores, Nusa Tenggara Timur menyalurkan bahan bakar minyak (BBM) ke kontraktor besar di Ende secara ilegal.

Diduga terdapat 3 oknum pelaku penyimpangan, yakni DB (petugas pengisian), EYT (bagian penimbunan dan penyaluran BBM), serta AH (tenaga bantu administrasi/ keuangan).

"Ada staf di dalam (Depot Pertamina Ende) yang menyampaikan pada saya tanggal 23 Oktober 2010 terjadi penyaluran BBM ke kontraktor untuk proyek jalan. Itu penyimpangan yang ketahuan, diperkirakan hal ini sudah berlangsung lama dan terus menerus," kata Djemi Matutina, mantan satpam Depot Pertamina Ende, Kamis (2/12/2010), di Ende.

Menurut dia, dalam bulan Oktober terjadi empat kali penyaluran dengan 4 mobil tangki (mengangkut solar dan minyak tanah). "Yang terakhir ketahuan tanggal 23 Oktober," katanya.

Djemi berharap, pimpinan Depot Pertamina Ende dapat mengusut tuntas kasus tersebut. Pada tahun 2008, Djemi bersama seorang satpam yang lain, Samsudin, dipecat dari Depot Pertamina karena menampung tetesan premium dari tangki penimbunan.

"Saya dipecat karena dianggap mencuri. Pimpinan depot waktu itu mengatakan pencurian satu botol premium sama dengan satu mobil tangki. Saya menerima pemecatan itu, tapi kasus ini kalau ada penyimpangan satu mobil tangki lalu disamakan dengan apa?" gugat Djemi.

BBM dapat keluar dari areal Depot Pertamina diduga dengan cara dimanipulasikan dokumen pengiriman BBM .

Semestinya, mekanisme pembelian BBM dilakukan pembayaran lewat bank BNI 46. Bukti pembayaran lalu ditunjukkan ke pihak depot Pertamina, sehingga BBM dapat dikirim.

"Sedangkan kasus ini diperkirakan kontraktor langsung memesan ke oknum Pertamina, harganya tentu jauh di bawah harga industri. Padahal untuk solar satu mobil tangki (5.000 liter) diperkirakan harganya yang resmi Rp 64 juta," kata Djemi.

Ketika dikonfirmasi di kantornya, Kepala Depot Pertamina Ende, Y Pudji Santoso tidak bersedia menemui wartawan.

Alasannya, hari itu Pudji sedang melayani tamu dari Pertamina pusat. Diperkirakan tamu yang dimaksud adalah tim pengawas yang datang khusus memeriksa kasus penyelewengan BBM tersebut.  

"Pimpinan tadi sudah berpesan, hari ini tidak bisa menerima wartawan, karena ada tamu dari Pertamina pusat. Itu saja pesan Bapak," kata salah seorang satpam di pos sekuriti. Wartawan yang datang hanya dipersilakan mengisi buku tamu.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau