Ujian nasional

Pernyataan Mendiknas Dinilai Menyesatkan

Kompas.com - 03/12/2010, 14:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pernyataan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh ihwal ujian nasional (UN) model Indonesia sangat penting dilaksanakan di Amerika Serikat (AS) dinilai menyesatkan oleh para pemerhati pendidikan. Menurut Mendiknas, berdasarkan sebuah situs di AS dijelaskan, bahwa untuk melakukan revolusi pendidikan, UN di AS sangat penting dilaksanakan.

"Pernyataan Bapak Nuh, bahwa UN di AS diperlukan, itu sangat menyesatkan. Tolong Mendiknas membaca langsung situs yang dia maksud. Patut diduga beliau hanya mendapat bisikan orang-orang terdekatnya untuk menjustifikasi atau mencari alasan agar UN di Indonesia tetap berjalan," tegas Heru Widiatmo, pemerhati pendidikan yang kini menjadi peneliti di American College Testing, AS, lewat surat elektronik yang dikirimkannya di sebuah diskusi mailing list pendidikan, Jumat (3/12/2010). 

Heru, yang bekerja di lembaga testing pendidikan USA, mengatakan mustahil UN model Indonesia bisa diterapkan di AS. Dia menambahkan, pejabat pemerintah, politikus, ahli pendidikan, guru, orangtua, dan siswa pasti menolak UN.

"Mereka di sini paham betul UN bukan cara untuk meningkatkan mutu pendidikan. Banyak cara lain yang lebih baik untuk itu seperti meningkatkan kompetensi guru, memperbaiki metode belajar-mengajar, dan memperbaiki sarana dan prasarana sekolah," ucap Heru.

Pendapat tersebut diperkuat oleh temuan Edi Subkhan, mahasiswa Program Pascasarjana (S-2) di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), tentang situs berisi ujian yang dimaksud oleh Mendiknas.

"Mungkin situs ini yang dimaksud Pak Menteri. Saya coba cari-cari di situs departemen pendidikan AS," ujar Edi.

Situs yang dimaksud oleh Edi adalah http://www.ed.gov/blog/2010/09/bursting-the-bubble-tests/ dan http://www.ed.gov/blog/2009/06/higher-standards.

"Jelas yang dimaksud Secretary Duncan atau Mendiknas AS itu bukan UN model kita seperti yang dimaksud Bapak Nuh," timpal Heru.

Heru menuturkan, Duncan menyiapkan dana 330 juta Dollar AS bagi negara bagian yang mau dan bukan dipaksa bersama-sama membuat tes yang mengukur critical thinking dan other higher-level skills.

"Bukan tes hapalan model UN dan hanya di pelajaran Mathematics and English Language Arts, tidak puluhan mata pelajaran seperti UN," kata Heru.

Dia menambahkan, walaupun tidak dinyatakan secara eksplisit, tes tersebut nantinya tidak akan digunakan untuk menentukan kelulusan, melainkan sebagai input kepada guru, sekolah, dan pejabat pendidikan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan.

"Sebagai informasi, selama ini setiap states di AS membuat alat ukur atau tes sendiri-sendiri untuk mengetahui mutu pendidikannya, dan pada umumnya tidak ada yang menentukan kelulusan siswa. Cara ini tentu tidak efisien dan tidak dapat digunakan untuk membandingkan mutu antarmereka (siswa)," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya di Kompas.com, Senin (29/11/2010), Mendiknas menyarankan, masyarakat perlu melihat situs Kementerian Pendidikan di AS. Di situs tersebut, kata dia, dijelaskan bahwa untuk melakukan revolusi pendidikan UN di AS sangat penting.

"Kalau tidak ada ujian (UN), anak-anak akan jadi seperti apa, apakah anak-anak di Indonesia mau dimanja terus? UN itu melekat pada satuan pendidikan Indonesia," kata Nuh.

"Di sini UN yang jelas ada kok malah ingin ditiadakan," ujar Nuh.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau