Untung Ada Dayung

Kompas.com - 05/12/2010, 02:59 WIB

Kalau saja tim perahu naga tidak jadi diberangkatkan ke ajang Asian Games Guangzhou, agaknya wajah Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng bakal tersenyum kecut menyambut kedatangan kontingen Indonesia. Atau jangan-jangan Sang Menteri tidak bersedia menyambut atlet di Bandara Soekarno-Hatta. Tanpa perahu naga, prestasi olahraga Indonesia kembali terpuruk, hanya mengumpulkan 1 medali emas, 6 medali perak, dan 13 medali perunggu.

Petinggi Komite Olahraga Indonesia yang sempat melontarkan niat tidak memberangkatkan tim perahu naga ke Guangzhou selayaknya meminta maaf kepada pengurus Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia. Bayangkan betapa malu Indonesia, terperosok lebih dalam di negara-negara Asia, bahkan di Asia Tenggara.

Dalam pikiran petinggi KOI itu, satu tim perahu naga sebanyak 20 atlet diprediksi hanya akan menjadi pecundang dan menghabiskan banyak biaya. Anggapan itu ternyata salah dan perahu naga bahkan menjadi primadona serta tulang punggung Indonesia dalam mengangkat harkat dan martabat bangsa.

Apa pun cerita dibalik keberangkatan tim perahu naga, perolehan tiga medali emas mampu membuat cerita sukses pada tahun 2010. Semua petinggi KOI, KONI, Program Atlet Andalan Prima, Kementerian Pemuda dan Olahraga mampu tersenyum bahwa pada penghujung dasawarsa pertama 2000, posisi Indonesia berada di urutan ke-15 Asia dan nomor tiga di Asia Tenggara.

Apakah dengan posisi ke-15 di Asia atau urutan ke-3 di Asia Tenggara olahraga Indonesia sudah membaik? Apabila ditilik dari perolehan emas atau kedudukan atau posisi di Asian Games 2010, prestasi Indonesia jelas membaik. Terjadi peningkatan signifikan dari semula berada pada urutan ke-21 di Doha 2006 menjadi ke-15 di Guangzhou 2010.

Namun, kenaikan itu tidak langsung dapat diartikan prestasi olahraga Indonesia telah bagus. Pada Asian Games 2010, hanya dayung (baca: perahu naga) yang paling bagus. Cabang boling di Qatar 2006 mampu menyumbang emas, di Guangzhou turun menjadi perak. Karate dalam beberapa Asian Games terakhir tidak juga kunjung menyumbang emas setelah era Hasan Basri.

Membandingkan perolehan emas negara Asia Tenggara lain, jelas bahwa Thailand dan Malaysia telah mampu berbicara di Asia meski hanya berada pada urutan ke-9 dan ke-10. Thailand bahkan sudah mampu bersaing dengan negara-negara besar olahraga Asia untuk merebut emas dari cabang terukur, atletik. Malaysia mendapat emas dari sepeda. Namun, Singapura secara diam-diam semakin kukuh dalam cabang renang.

Gambaran perolehan medali Asian Games 2010 dapat dipakai sebagai titik awal prediksi kekuatan negara-negara Asia Tenggara pada ajang SEA Games 2011 yang akan berlangsung di Indonesia.

Berkaca dari Asian Games 2010, Indonesia sesungguhnya belum menjadi yang terbaik di Asia Tenggara. Hanya saja, sebagai tuan rumah SEA Games, Indonesia akan mampu berada pada urutan dua besar. Satu-satunya negara yang paling sulit ditundukkan untuk menjadi juara umum adalah Thailand. Tanpa rekayasa pada cabang unggulan Indonesia, niscaya Thailand tidak akan mampu digoyang dari takhta negara terbaik olahraga di Asia Tenggara. Namun, kuda hitam Vietnam sangat patut diperhitungkan pula.

Pada Asian Games 2010, Thailand telah menunjukkan kelasnya dari cabang-cabang terukur, seperti atletik, menembak, dan angkat besi. Bahkan, tanpa banyak gembar-gembor, putri dan putra Thailand telah mampu merebut perak dan perunggu pada cabang tradisional Indonesia, bulu tangkis.

Vietnam boleh dikatakan sial pada 2010. Negara ini hanya meraih satu emas dari karate. Akan tetapi, dari perolehan peraknya, Vietnam sebenarnya menyimpan potensi luar biasa.

Atlet perempuan Vietnam merebut tiga medali perak dari cabang atletik nomor 200 meter, 800 meter, dan 1.500 meter serta meraih perunggu di nomor 100 meter. Potensi itu jelas dahsyat. Pada SEA Games 2011, atlet-atlet atletik putri Vietnam akan menunjukkan kelasnya di hadapan publik Indonesia.

Vietnam akan bersaing ketat dengan Thailand dalam cabang atletik dan menembak di SEA Games nanti. Indonesia akan berada di belakang dua negara itu. Thailand dan Vietnam plus Myanmar akan bertarung mati-matian pada cabang andalan Indonesia, dayung.

Pada cabang bela diri, seperti taekwondo, wushu, dan karate, akan terjadi pemerataan di antara Indonesia, Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Filipina. Namun, tinju masih menjadi milik Thailand dan Filipina. Adapun gulat, yang semula menjadi cabang andalan Indonesia, akan dipegang oleh Vietnam.

Dapat diprediksi, pada SEA Games 2011 nanti, posisi tiga besar akan diisi oleh Thailand, Indonesia, dan Vietnam. Adapun Malaysia (meski sekarang mampu berada di 10 besar Asia) bersama Singapura dan Filipina akan berada pada level dua di urutan empat sampai enam.

Sesungguhnya ukuran prestasi Indonesia tidak dapat dilihat pada tahun 2011, tetapi pada SEA Games 2013 di Singapura. Pada Asian Games di Incheon, Korea Selatan, 2014 nanti, Indonesia akan kembali menduduki posisi pada angka 20-an jika pola persiapan atlet masih tetap seperti yang dilakukan sekarang ini. (Syahnan Rangkuti)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau