Koridor IX dan X Meragukan

Kompas.com - 06/12/2010, 02:39 WIB

Jakarta, Kompas - DPRD DKI Jakarta meragukan kesiapan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mengoperasikan bus transjakarta koridor IX dan X. Sampai saat ini masih banyak shelter yang rusak, bus belum siap operasi, operator belum ada, dan harga gas masih belum seragam.

”Kami masih meragukan kedua koridor bus transjakarta itu dapat beroperasi pada akhir tahun ini. Masih banyak ketidaksiapan yang menghalangi pengoperasian angkutan massal itu pada akhir tahun,” kata anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Muhammad Sanusi, Minggu (5/12) di Jakarta Pusat.

Menurut Sanusi, persiapan pengoperasian koridor IX dan X bus transjakarta seharusnya berlangsung sejak awal tahun sehingga tidak terburu-buru seperti saat ini. Tinggal 10 hari menjelang tutup buku APBD 2010, banyak shelter dalam kondisi rusak dan belum dapat digunakan.

Koridor IX membentang dari Pinang Ranti ke Pluit. Sementara koridor X membentang dari Cililitan ke Tanjung Priok.

Pengamatan Kompas, pekan ini, kondisi shelter Jatinegara di koridor X, tepatnya di Jalan DI Panjaitan di atas jalan layang Taman Viaduct, Jatinegara, Jakarta Timur, sangat memprihatinkan. Shelter itu tinggal rangka saja.

Di bagian kawasan Jakarta Timur, ada 14 shelter transjakarta koridor X. Keempat belas shelter tersebut, sembilan di Jalan DI Panjaitan dan sisanya di Jalan Ahmad Yani.

Kesembilan shelter di Jalan DI Panjaitan adalah shelter Pusat Grosir Cililitan, Badan Kepegawaian Negara, UKI Cawang, Cawang Soetoyo, Penas Kali Malang, Cipinang Kebon Nanas, Jatinegara, Pedati Prumpung, dan shelter Bea Cukai. Lima shelter lainnya di Jalan Ahmad Yani, antara lain shelter Utan Kayu, Kayu Putih, dan Pulomas Bypass. Shelter-shelter itu lama dibiarkan kosong tanpa pengamanan.

Ketersediaan bus

Pengoperasian bus transjakarta koridor IX dan X juga terkendala ketersediaan bus. Bus-bus yang dipesan belum selesai dirakit.

Jumlah bus yang dipesan juga terlalu sedikit untuk melayani kedua koridor yang sangat panjang. Jumlah bus yang terlalu sedikit diprediksi bakal membuat bus terlalu penuh penumpang sehingga tidak nyaman.

Waktu tunggu penumpang juga terlalu lama sehingga waktu tempuh perjalanan menjadi tidak dapat diperkirakan. Kondisi ini dapat menjadi bumerang karena warga akan meninggalkan bus transjakarta dan kembali ke kendaraan pribadi.

Operator bus transjakarta untuk kedua koridor itu belum tersedia. Padahal, sopir-sopir bus transjakarta memerlukan latihan untuk mengendalikan bus yang lebih besar daripada bus pada umumnya dan untuk mengenal jalur yang harus dilintasi.

Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Selamat Nurdin mengkhawatirkan belum seragamnya harga bahan bakar gas (BBG) akan kembali membelit pengoperasian kedua koridor itu. Selama ini, semua armada bus transjakarta harus antre tiga jam untuk membeli BBG yang lebih murah dari stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) milik Pertamina yang hanya berjumlah tiga unit.

Pengoperasian 94 bus baru untuk koridor IX dan X bakal menambah panjang antrean jika harga BBG tidak kunjung seragam. Akan lebih baik jika bus transjakarta dapat membeli bahan bakar di delapan SPBG yang dilayani PT PGN.

Menanggapi keraguan DPRD, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan, shelter yang baru sedang dikerjakan di pabrik perakitan dan tidak di lokasi shelter yang lama. Kini, proses pengerjaannya sudah 75 persen.

Shelter-shelter itu akan dipasang mulai akhir minggu ini. Waktu yang diperlukan untuk memasang shelter yang baru diperkirakan hanya lima hari.

”Kini tidak tampak perbaikan halte yang lama karena badan halte yang baru dikerjakan terpisah, tetapi pasti siap sebelum 15 Desember,” kata Pristono.

Armada bus yang berjumlah 25 bus gandeng dan 69 bus tunggal hampir selesai dan bakal siap beroperasi bersamaan dengan selesainya shelter. Saat ini Dishub mengurus surat-surat yang dibutuhkan untuk pengoperasian bus-bus itu. Sementara itu, lelang operator bus selesai pada minggu ketiga Desember. Mereka diberi kesempatan latihan selama seminggu agar dapat beroperasi pada minggu keempat Desember.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo memastikan kedua koridor bus transjakarta itu dapat beroperasi akhir tahun ini. Oleh karena itu, warga diminta tidak menerobos kedua jalur bus transjakarta ketika angkutan massal itu dioperasikan.

Namun, masalah harga BBG menunggu keputusan pemerintah pusat. Pemprov DKI berharap harga BBG segera diseragamkan agar tiada lagi antrean di SPBG. (ECA/WIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau