Piala aff 2010

Rotasi 4 Pemain Melawan Thailand

Kompas.com - 06/12/2010, 03:25 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Pelatih tim nasional Indonesia, Alfred Riedl, menyatakan akan memberi kesempatan bagi dua hingga empat pemain penghuni bangku cadangan untuk tampil starter saat menghadapi Thailand pada laga terakhir penyisihan Grup A Piala Suzuki AFF 2010 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (7/12) besok malam.

Laga itu sudah tak berpengaruh lagi bagi tim Indonesia yang sudah memastikan lolos semifinal sebagai juara Grup A. Bagi Thailand yang baru mengantongi dua poin dari dua laga, partai itu tak ubahnya hidup-mati. Mereka bisa tersingkir di penyisihan untuk kedua kalinya sejak turnamen ini digelar jika gagal memenangi laga tersebut.

Satu partai lainnya, Malaysia melawan Laos, digelar bersamaan di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang. Kedua tim sama-sama baru mengantongi satu poin, tetapi peluang mereka belum habis. Baik Malaysia maupun Laos bisa ke semifinal jika menang dan pada saat bersamaan Thailand gagal menang.

Riedl mengakui situasi persaingan itu dan menolak jika keputusannya menurunkan beberapa pemain pelapis hanya akan menguntungkan Thailand. ”Kami tidak memikirkan tim lain. Yang kami pikirkan hanyalah tim kami sendiri, bagaimana memberi kesempatan pada pemain untuk tampil,” katanya seusai memimpin latihan timnas di Lapangan Timnas, Senayan, Jakarta, Minggu sore.

”Tidak ada pemain cadangan di tim kami. Semua anggota tim adalah pemain inti,” lanjut pemain asal Austria itu. ”Kami akan melakukan beberapa pergantian, dua atau tiga atau empat pemain, pada posisi depan, belakang, atau tengah,” lanjut Riedl.

Dalam latihan kemarin, para pemain yang tampil starter melawan Laos hanya diberi porsi latihan. Latihan normal diberikan pada para pemain cadangan, termasuk striker Bambang Pamungkas dan Arif Suyono. Selain digenjot dengan latihan passing, mereka juga ditempa beberapa kali lari jarak pendek.

Riedl belum menyebutkan siapa pemain cadangan yang diberi kesempatan tampil lawan Thailand. Namun, dari dua laga sebelumnya, beberapa pemain cadangan yang diberi kesempatan tampil adalah Bambang Pamungkas (depan), Arif Suyono, Tony Sucipto (tengah), dan Beny Wahyudi (belakang).

”Kondisi pemain hanya menghadapi gangguan ringan, seperti sedikit kram dan hal normal lainnya setelah bertanding,” ujar Riedl. ”Dibanding Malaysia, Thailand lebih bagus. Mereka hanya menghadapi masalah kelelahan mengingat beberapa pemain masih tampil di final FA Cup, dua hari sebelum turnamen ini.”

Terkait penampilan cemerlang tim ”Merah-Putih” pada dua laga sebelumnya, Manajer Timnas Andi Darussalam menyebutkan, hal itu antara lain dipicu catatan buruk timnas sebelumnya.

”Sebelum ini, prestasi sepak bola mengalami titik terendah. Situasi inilah yang membuat pemain lebih terlecut semangat mereka,” papar Andi seusai memantau latihan timnas. ”Pemain naturalisasi juga memberi semangat pemain lokal untuk unjuk kemampuan. Mereka tidak mau kalah dari pemain luar.”

Pemain naturalisasi yang dimaksud, striker asal Uruguay, Cristian Gonzales. Tandemnya, Irfan Bachdim, yang keturunan Indonesia-Belanda juga baru kali ini memperkuat timnas.

Tekanan bagi Robson

Sementara itu, posisi sulit tim Thailand membuat laga melawan Indonesia terasa lebih berat. Hal itu diakui Pelatih Thailand Bryan Robson dalam jumpa pers seusai bermain imbang lawan Malaysia, Sabtu lalu. ”Saya lebih senang jika menang hari ini, tetapi kini kami harus menempuh jalan berat. Bakal menjadi pekerjaan berat untuk menundukkan Indonesia,” kata Robson, mantan bintang Manchester United itu.

Jika Thailand gagal lolos, ia bisa terancam pemecatan. Dari tujuh kali Piala AFF, Thailand baru sekali gagal ke semifinal, yakni pada tahun 2004. (SAM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau