Pariwisata

Indonesia Tourism Award untuk Bandung

Kompas.com - 06/12/2010, 03:48 WIB

BANDUNG, KOMPAS - Pemerintah Kota Bandung mendapat penghargaan Indonesia Tourism Award dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata untuk kategori The Most Favourite City dan The Best Service City pekan lalu. Praktisi pariwisata menilai penghargaan itu sebagai tantangan bagi pemerintah dalam membenahi penataan lingkungan kota untuk menunjang industri pariwisata.

”Sebagai kota terfavorit, saya rasa layak (dianugerahkan) karena sejak dulu pun demikian. Tetapi, kini tantangannya, bagaimana pemerintah mempertahankan. Salah satunya lewat penegakan hukum (law enforcement),” kata Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Agen Perjalanan dan Pariwisata Indonesia (Asita) Jabar Nicolaus Lumanau, Minggu (5/12).

Berdasarkan penuturan Nicolaus, rute penerbangan AirAsia dari Malaysia ke Bandung merupakan yang terlaris dibandingkan ke kota lain di Indonesia. Itu masih ditambah dengan Malaysia Airlines yang baru dibuka. Jika hal itu menjadi salah satu indikasi penilaian, Kota Bandung pantas menyandang kota tujuan wisata paling favorit.

Jumlah wisatawan, menurut Nicolaus, masih bisa ditingkatkan asal pemerintah benar-benar menegakkan aturan yang ditetapkan. Aturan itu bisa meliputi banyak segi, seperti aturan berlalu lintas dan aturan penataan kota. Lemahnya penerapan aturan tersebut, misalnya, bisa menyebabkan kemacetan yang ujungnya membuat wisatawan enggan datang lagi.

”Seharusnya saat ini Bandung belum perlu mengalami kemacetan lalu lintas. Tetapi, kedisiplinan pengendara masih lemah. Selain itu, area parkir yang sembarangan juga bikin macet. Trotoar yang seharusnya untuk jalan kak malah digunakan berjualan. Itu bukti lemahnya penegakan hukum di sini,” lanjut Nicolaus.

Pelanggaran RTRW

Penataan ruang kota juga menjadi sorotan. Kawasan permukiman yang diatur dalam Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) banyak yang berubah menjadi kawasan bisnis. Kemacetan kerap terjadi di kawasan seperti ini karena prasarana jalan tidak memadai sebagai kawasan bisnis.

Dalam hal itu, penghargaan sebagai kota berpelayanan terbaik (The Best Service) harus dimaknai sebagai pelecut untuk berbenah. ”Wisatawan bukan hanya mencari sapaan dan senyum ramah pelayan di hotel atau restoran. Kota juga harus melayani wisatawan dengan udara yang bersih dan jalan yang bebas macet,” ujar Nicolaus.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Priyana Wirasaputra menuturkan, industri pariwisata saat ini telah menjadi salah satu pilar perekonomian kota dan jadi andalan dalam kontribusi terhadap pendapatan asli daerah. ”Sepanjang 2010 hingga Oktober, sektor ini telah menyumbang lebih dari Rp 176 miliar dari pajak hotel, restoran, dan tempat hiburan,” ujar Priyana.

Penghargaan itu diterima Wali Kota Bandung Dada Rosada pada Kamis pekan lalu di Jakarta. Dada juga menerima penghargaan dari Kementerian Sosial di bidang kepedulian dan keberpihakan kepada penyandang cacat dalam rangka Hari Penyandang Cacat Internasional. (HEI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau