BANDUNG, KOMPAS -
”Sebagai kota terfavorit, saya rasa layak (dianugerahkan) karena sejak dulu pun demikian. Tetapi, kini tantangannya, bagaimana pemerintah mempertahankan. Salah satunya lewat penegakan hukum (law enforcement),” kata Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Agen Perjalanan dan Pariwisata Indonesia (Asita) Jabar Nicolaus Lumanau, Minggu (5/12).
Berdasarkan penuturan Nicolaus, rute penerbangan AirAsia dari Malaysia ke Bandung merupakan yang terlaris dibandingkan ke kota lain di Indonesia. Itu masih ditambah dengan Malaysia Airlines yang baru dibuka. Jika hal itu menjadi salah satu indikasi penilaian, Kota Bandung pantas menyandang kota tujuan wisata paling favorit.
Jumlah wisatawan, menurut Nicolaus, masih bisa ditingkatkan asal pemerintah benar-benar menegakkan aturan yang ditetapkan. Aturan itu bisa meliputi banyak segi, seperti aturan berlalu lintas dan aturan penataan kota. Lemahnya penerapan aturan tersebut, misalnya, bisa menyebabkan kemacetan yang ujungnya membuat wisatawan enggan datang lagi.
”Seharusnya saat ini Bandung belum perlu mengalami kemacetan lalu lintas. Tetapi, kedisiplinan pengendara masih lemah. Selain itu, area parkir yang sembarangan juga bikin macet. Trotoar yang seharusnya untuk jalan kak malah digunakan berjualan. Itu bukti lemahnya penegakan hukum di sini,” lanjut Nicolaus.
Penataan ruang kota juga menjadi sorotan. Kawasan permukiman yang diatur dalam Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) banyak yang berubah menjadi kawasan bisnis. Kemacetan kerap terjadi di kawasan seperti ini karena prasarana jalan tidak memadai sebagai kawasan bisnis.
Dalam hal itu, penghargaan sebagai kota berpelayanan terbaik (The Best Service) harus dimaknai sebagai pelecut untuk berbenah. ”Wisatawan bukan hanya mencari sapaan dan senyum ramah pelayan di hotel atau restoran. Kota juga harus melayani wisatawan dengan udara yang bersih dan jalan yang bebas macet,” ujar Nicolaus.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Priyana Wirasaputra menuturkan, industri pariwisata saat ini telah menjadi salah satu pilar perekonomian kota dan jadi andalan dalam kontribusi terhadap pendapatan asli daerah. ”Sepanjang 2010 hingga Oktober, sektor ini telah menyumbang lebih dari Rp 176 miliar dari pajak hotel, restoran, dan tempat hiburan,” ujar Priyana.
Penghargaan itu diterima Wali Kota Bandung Dada Rosada pada Kamis pekan lalu di Jakarta. Dada juga menerima penghargaan dari Kementerian Sosial di bidang kepedulian dan keberpihakan kepada penyandang cacat dalam rangka Hari Penyandang Cacat Internasional.