Iran Yakinkan Tetangga

Kompas.com - 06/12/2010, 04:00 WIB

Kairo, Kompas - Menteri Luar Negeri Iran Manouchehr Mottaki dalam forum konferensi tentang keamanan Teluk di Bahrain menegaskan, Iran bukan ancaman. Iran ingin menjalin kerja sama dengan negara-negara Teluk.

”Kami tidak akan pernah menggunakan kekuatan terhadap negara-negara tetangga karena negara tetangga kami adalah Muslim,” kata Mottaki.

Forum digelar selama dua hari, Jumat dan Sabtu (3-4/12). Forum menjadi ajang dialog soal bocoran dokumen rahasia oleh situs Wikileaks. Situs ini menguak tentang keinginan para pemimpin Arab agar AS menggunakan segala cara untuk menghentikan program nuklir Iran.

Mantan Kepala Intelijen Arab Saudi Pangeran Turki al-Faisal dalam forum mengatakan, informasi yang muncul di Wikileaks bukan pernyataan resmi.

Menlu Bahrain Sheikh Khaled bin Ahmed al-Khalifa mengatakan, Wikileaks menguak tentang cara berpikir para pemimpin Arab.

Menlu AS Hillary Clinton, yang menghadiri konferensi, mengatakan telah mengontak puluhan pemimpin dunia terkait bocornya dokumen rahasia. Dia mengontak untuk membahas dampak bocornya dokumen.

Hillary melukiskan bocornya dokumen itu sebagai serangan terhadap dunia.

Menlu AS menelepon Presiden Pakistan Asif Ali Zardari dan berdiskusi tentang dokumen yang bocor. Jubir kepresidenan Pakistan, Farhatullah Babar, mengungkapkan, Clinton dan Zardari sepakat bahwa situs Wikileaks tidak hanya membocorkan informasi tanpa izin, tetapi juga mencerminkan ketiadaan etika.

Keduanya sepakat bahwa bocoran dokumen itu tidak akan mengganggu kemitraan AS-Pakistan. Dikatakan, dokumen tersebut hanya bagian dari masa lalu. AS-Pakistan sepakat untuk melihat ke depan.

Turki menuduh AS

PM Turki Recep Tayyip Erdogan menuduh para diplomat AS menyebarluaskan ilusi belaka. Erdogan menyebutkan, aksi situs Wikileaks membocorkan dokumen rahasia itu sebagai propaganda untuk merusak hubungan AS dan sahabatnya.

Presiden Turki Abdullah Gul mengatakan, aksi pembocoran dokumen rahasia oleh situs Wikileaks bisa mengganggu rasa saling percaya dalam hubungan internasional. Namun, dia mengatakan, hal itu tidak akan menggoyang stabilitas politik Turki.

Menteri Dalam Negeri Turki Besir Atalay mengatakan, Israel mengambil banyak manfaat dari bocornya dokumen rahasia oleh situs Wikileaks. Menurut Atalay, Israel tidak banyak disinggung oleh situs Wikileaks dan posisinya selalu positif ketika situs Wikileaks menyebutnya.

Situs Wikileaks menguak tentang kebencian Erdogan kepada Israel dan Erdogan disebut mengusung ideologi Islamis.

Pembocoran dokumen rahasia oleh situs Wikileaks itu membuat Menteri Keuangan Afganistan Omar Zakhilwal mundur dari jabatannya. Dalam dokumen rahasia itu, Zakhilwal menyebut Hamid Karzai sebagai presiden lemah dan tak mau memahami kenyataan di lapangan. Zakhilwal dalam temu pers seusai mengundurkan diri sembari membantah telah mengucapkan kata lemah terhadap Presiden Hamid Karzai. (mth)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau