"Bepe" Belum Habis

Kompas.com - 08/12/2010, 03:30 WIB

Jakarta, Kompas - Striker Bambang Pamungkas—akrab dipanggil Bepe—tidak ingin dilupakan di tengah euforia publik sepak bola negeri ini pada dua striker anyar, Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim. Ia menjawab keraguan atas dirinya lewat dua gol penalti dalam 32 menit penampilannya.

Pada laga terakhir Grup A Piala Suzuki AFF di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Indonesia menaklukkan Thailand, 2-1 (0-0), Selasa (7/12). Dua gol penalti ”Bepe” itu tak hanya menyelamatkan Indonesia, yang tertinggal terlebih dahulu, 0-1, tetapi juga membuat tim ”Merah Putih” memetik kemenangan 100 persen pada babak penyisihan grup. Sebaliknya, bagi Thailand, ini hasil buruk dan untuk kedua kalinya ”Negeri Gajah Putih” itu gagal ke semifinal. Satu tiket semifinal lainnya dari Grup A direbut Malaysia yang melibas Laos di Palembang, 5-1.

Gol penalti pertama dia ceploskan pada menit ke-80 setelah Gonzales dilanggar di kotak penalti saat sontekannya mengenai tiang gawang kiri Thailand. Gol keduanya muncul dua menit menjelang bubar setelah pemain Thailand, Panupong Wongsa, hands ball di kotak penalti saat menahan bola tendangan Arif Suyono.

”Bepe” tidak mau berhenti saat hendak dimintai komentarnya oleh para wartawan yang menunggu di mix zone. Sambil dirangkul sejumlah pemain, ia tidak menghiraukan permintaan wartawan untuk wawancara.

Sementara Arif Suyono mengatakan, ia sangat gembira bisa ikut andil dalam kemenangan Indonesia. Berkat aksi Arif menerobos pertahanan Thailand, Indonesia mendapat hadiah penalti kedua setelah bola tendangannya mengenai tangan seorang pemain bertahan Thailand di kotak terlarang. ”Kemenangan ini berkat kerja keras semua pemain,” kata Arif.

Pelatih timnas Indonesia Alfred Riedl mengaku telah mengambil risiko di babak kedua saat Indonesia terus tertekan dengan memasukkan Bambang, Arif Suyono, dan Ahmad Bustomi untuk menggantikan Irfan, Oktovianus Maniani, dan Eka Ramdani. ”Di awal, kami mengubah taktik dengan banyak bertahan dan mengandalkan serangan balik. Kami ubah itu di babak kedua meski cukup berisiko,” katanya.

Babak kedua, laga berjalan lebih terbuka. Pada menit ke-51, bola sundulan kapten Maman Abdurachman menyelamatkan gawang Indonesia yang sudah ditinggalkan kiper Markus Horison dari bola tendangan Datsakorn Thonglao. Tidak lama berselang, sontekan Cristian Gonzales juga melebar tipis di kanan gawang Thailand.

Markus tak kalah cemerlangnya saat mengeblok tendangan salto pemain Thailand, Kirati Keawsombut. Dalam situasi tertekan, Riedl mengganti lini depannya dengan menarik Irfan Bachdim dan memasukkan Bambang Pamungkas.

Pelatih asal Austria itu pun menerima konsekuensi dengan jebolnya gawang Indonesia menit ke-69 oleh tendangan voli bek kanan Suree Sukha. Namun, bukan pada Riedl penonton menumpahkan kekesalan, melainkan kepada Ketua Umum PSSI Nurdin Halid. ”Nurdin turun! Nurdin turun! Nurdin turun!” teriak mereka.

Riedl yakin ke final

”Jika melihat permainan sepanjang 90 menit, hasil seri cukup adil,” ujar Riedl. ”Setelah tertinggal 0-1, kami harus menyerang dan mengambil risiko. Saya cukup terkejut melihat pemain masih punya tenaga pada menit-menit akhir.”

Di semifinal Indonesia masih menunggu lawan, yakni peringkat kedua Grup B yang hasilnya baru diketahui Rabu ini dari laga terakhir penyisihan grup di Vietnam. ”Jika kami tampil seperti pada penyisihan ini, kami punya peluang lolos ke final,” tambah Riedl.

Hasil itu membuat Pelatih Thailand Bryan Robson kecewa berat. Seusai laga, ia menghampiri wasit Sato Ryuji (Jepang) untuk menyampaikan protesnya. ”Di babak pertama, kami seharusnya memperoleh dua penalti, tetapi wasit tidak melihatnya,” kata mantan bintang Manchester United dan kapten timnas Inggris itu.

Di babak pertama, Thailand lebih unggul dalam penguasaan bola. Hal ini tidak terlepas kebijakan rotasi Riedl yang mengganti dua gelandang, Firman Utina dan Ahmad Bustomi, dengan Eka Ramdani dan Tony Sucipto. Eka belum setangguh Firman dalam mengatur serangan ataupun membagi bola ke depan. (RAY/SAM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau