Warga Arak Pelaku Pencabulan 12 Bocah SD

Kompas.com - 08/12/2010, 11:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Taviv Sumaryo (46), Selasa (7/12/2010), babak belur dikeroyok warga RW 02 Kelurahan Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Gara-garanya, lelaki yang berprofesi sebagai juru parkir itu diduga sering mencabuli bocah murid atau bekas murid sekolah dasar.

Taviv, pelaku sodomi tersebut, dihajar massa di Jalan Bangka 2, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, sekitar pukul 12.00. Pria asal Semarang, Jawa Tengah, ini diduga telah melakukan pencabulan terhadap 12 anak laki-laki.

Setelah babak belur karena dipukuli, warga Jalan Kubis II No 172 Blok A, Kebayoran Baru, itu digelandang petugas kelurahan setempat ke Mapolrestro Jakarta Selatan.

Ketua RW 02 Petogogan Zamilin menuturkan, peristiwa tersebut terkuak setelah salah satu korban Taviv melakukan sodomi terhadap teman seusianya. Setelah itu Zamilin dan beberapa warga menginterogasi salah satu korban yang berinisial DW itu.

"Dia mengaku selama ini sering dicabuli oleh pelaku di dalam warnet," katanya.

Selain itu, beberapa bocah juga sering meledek teman lainnya soal pencabulan yang dilakukan Taviv. Hingga akhirnya ada empat anak di RW 02 yang mengaku pernah dicabuli Taviv. Akhirnya, Taviv dijebak dengan dihubungi salah satu korbannya dan melakukan perjanjian di warnet.

Ace (35), salah satu warga, menambahkan, anak-anak korban Taviv merupakan siswa SD dan putus sekolah yang berusia di bawah 12 tahun.

Berbagai modus rayuan dilakukannya mulai dari membayarkan sewa internet, membelikan mi ayam, memberikan uang Rp 20.000, hingga membelikan telepon seluler.

Awalnya para anak itu tidak mau mengaku karena trauma, tetapi belakangan empat anak mengaku pernah dicabuli Taviv.

"Di warnet ada bilik tertutup. Dia menyuruh anak-anak melakukan onani dan seks oral di situ, lalu dikasih uang Rp 20.000-Rp 25.000," ujar Ace.

Para bocah memanggil Taviv dengan panggilan Letjen. Taviv menyimpan sejumlah foto-foto wanita di dalam dompetnya. Dia juga memiliki kartu anggota salah satu partai besar. Dia mengaku telah melakukan pencabulan terhadap 12 anak.

Menurut Taviv, dia mendapatkan kepuasan tersendiri jika melakukan pencabulan pada anak laki-laki. Namun, pria yang telah memiliki istri dan seorang putra ini membantah pernah menyodomi. Dia mengaku hanya minta dionani dan diseks oral.

Taviv juga mengaku melakukan hal tersebut karena memang ingin melampiaskan nafsunya saja. Hal ini karena sang istri tinggal di kampung sehingga kebutuhan biologisnya menjadi tidak tersalurkan. "Saya normal, jadi saya begitu cuma karena nafsu saja," ujarnya.

Kepala Satuan Reskrim Polrestro Jakarta Selatan Kompol Budi Irawan mengatakan, pelaku saat ini masih dimintai keterangan di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polrestro Jakarta Selatan.

"Kita lihat nanti dari penuturan korbannya, apakah ada sodomi atau tidak," ujarnya. (sab/yos)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau