Mesir: Hentikan Mempermainkan Palestina

Kompas.com - 10/12/2010, 01:07 WIB

KAIRO, KOMPAS.com - Menteri Luar Negeri Mesir, Ahmed Abul Gheit, meminta Amerika Serikat dan pihak pemrakarsa perdamaian Palestina-Israel menghentikan "permainan", yang mengarah pada jalan buntu. "Pandangan Mesir adalah bahwa semua pemrakarasa perdamaian, termasuk Amerika Serikat segera menghentikan permainan soal Palestina untuk mewujudkan perdamaian menyeluruh di kawasan itu," kata Gheit setelah bertemu dengan Menlu Bulgaria Nikolay Mladenov, di Sofia, seperti dilansir kantor berita Mesir, MENA, Kamis.

Pemrakarasa perdamaian Timur Tengah terdiri atas masyarakat antarbangsa, yang disebut empat sekawan, mencakup Amerika Serikat, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa, dan Rusia. Pernyataan Menlu Gheit itu disampaikan menjelang pertemuan puncak Presiden Mesir Hosni Mubarak dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Kairo, Kamis.

Abbas tiba di Kairo, Rabu. Selain bertemu dengan Presiden Mubarak, ia juga menemui Sekretaris Jenderal Liga Arab, Amr Moussa, untuk membahas proses perdamaian, yang mengalami jalan buntu. Kebuntuan proses perdamaian itu karena Israel terus membangun perumahan di wilayah Palestina, yang diduduki sejak 1967, untuk permukiman Yahudi.

Amerika Serikat, Selasa, mengakui kegagalannya membujuk Israel untuk menghentikan pembangunan permukiman, yang menjadi ganjalan utama dimulainya perundingan perdamaian. Presiden AS Barack Obama, September lalu, memprakarsai dimulainya perundingan langsung di Washington antara pemimpin Israel dan Palestina. Namun belakangan mandek akibat Israel menolak memperpanjang larangan pembangunan permukiman. Di sisi lain, kantor berita Palestina WAFA melaporkan, Perdana Menteri Palestina Salam Fayyad dan Ketua Juru Runding Palestina Saeb Erakat, Kamis, tiba di Washington untuk menghidupkan kembali proses perdamaian itu.

Kunjungan kedua petinggi Palestina itu atas undangan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton untuk menghadiri acara dalam kerangka proses pedamaian, lapor WAFA. Selain petinggi Palestina, Hillary juga mengundang petinggi Israel terkait, yaitu Menteri Pertahanan Ehud Barak dan Ketua Juru Runding Isaac Molho untuk menghadiri forum tersebut.

Forum itu diadakan beberapa hari setelah AS menyatakan gagal membujuk Israel untuk menghentikan pembangunan permukiman Yahudi. Para pengamat menilai, forum itu diadakan sebagai upaya AS untuk menutupi kegagalannya menghentikan keangkuhan Israel, yang dikecam luas Palestina dan dunia Arab.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau