Defisit Anggaran 2011 Membengkak

Kompas.com - 10/12/2010, 04:33 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS - Akibat bencana banjir lahar dingin, Rancangan APBD Kota Yogyakarta pada 2011 terancam membengkak setidaknya hingga Rp 114 miliar. Pemerintah kota mencoba menekan defisit dengan berbagai cara, termasuk kemungkinan berutang.

Anggota Badan Anggaran DPRD Yogyakarta, M Zuhrif Hudaya, mengatakan, untuk kebutuhan penanganan bencana banjir lahar dingin di Kali Code, Pemkot Yogyakarta membutuhkan biaya Rp 17,5 miliar pada 2011. Porsi paling besar untuk pembiayaan berbagai pembenahan infrastruktur, seperti perbaikan talut, permukiman warga, pengerukan kali, dan normalisasi saluran air.

”Ini akan menambah jumlah defisit anggaran untuk tahun 2011 yang tadinya sudah ditetapkan sebesar Rp 92 miliar menjadi lebih dari Rp 100 miliar,” ujar Zuhrif, Kamis (9/12).

Defisit anggaran di atas Rp 100 miliar itu dinilainya sudah di atas ambang kewajaran. Karena itu, Zuhrif mengatakan, pemerintah harus mengambil langkah untuk mengurangi defisit itu dengan berbagai cara, seperti pemangkasan program-program kerja, menjual aset, dan menambah pendapatan.

Terakhir utang

”Jalan terakhir jika masih belum cukup, ya, bisa berutang. Tapi, saya yakin tidak sampai harus berutang,” ujarnya.

Zuhrif menambahkan, DPRD dan pemkot akan memprioritaskan pemangkasan pengeluaran dengan mencoret beberapa program kerja. Ia juga berharap Pemerintah Provinsi DIY bisa membantu pembiayaan penanganan banjir lahar dingin ini sehingga beban pemkot berkurang.

Sebelumnya, Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto mengatakan, pihaknya kemungkinan akan mencoret berbagai proyek fisik yang tadinya direncanakan pada 2011, seperti pembangunan sports centre dan Jembatan Kleringan. Pos lain yang akan dipangkas juga adalah anggaran perjalanan dinas.

Pengalihan anggaran

Anggaran-anggaran itu nantinya akan dialihkan untuk penanganan bencana banjir Code. ”Tapi, untuk proyek Jembatan Kleringan harus menunggu pembicaraan dengan pemprov dulu karena itu proyek bersama. Nanti kalau kita mencoret (anggarannya), tapi provinsi tidak, kan, repot juga,” ujar Herry.

Selain itu, Herry juga telah mengusulkan penambahan anggaran pada pos dana tak terduga dari Rp 2,8 miliar pada 2010, menjadi Rp 8 miliar untuk tahun 2011. Anggaran pada pos itu bisa sewaktu-waktu dikeluarkan untuk penanganan bencana alam.

Secara terpisah, Pemprov DIY menawarkan hunian sementara bagi warga bantaran Sungai Code, yang rumahnya rusak maupun selalu terancam banjir lahar dingin. Pemprov sudah menyiapkan lahan untuk hunian sementara itu di Jalan Kenari. ”Kita tawarkan hunian sementara kepada masyarakat, siapa yang mau,” ungkap Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X, usai rapat koordinasi dengan bupati/wali kota dan Muspida di Kepatihan, Kamis.

Sultan mengungkapkan, pemprov belum mengetahui pasti berapa jumlah keluarga yang akan ditempatkan di hunian sementara (huntara) itu. Konsep huntara tersebut masih akan dikoordinasikan dengan pemerintah kota, terkait jumlah yang dibutuhkan dan bentuk huntara. ”Anggarannya sharing dengan pemkot atau kalau bisa didanai Badan Nasional Penanggulangan Bencana, ya tidak apa-apa,” katanya. (ENG/RWN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau