YOGYAKARTA, KOMPAS -
”Pembuatan film yang diputar secara internasional meningkatkan jumlah kunjungan hingga tiga kali lipat dan efeknya berlangsung selama lima tahun,” kata pemerhati pariwisata Mimi Hudoyo, membacakan rekomendasi Widom 2010 di Yogyakarta, Rabu (8/12).
Mimi mengatakan, penggunaan situs wisata sebagai tempat membuat film merupakan salah satu strategi promosi sangat efektif. Setelah situs pariwisata digunakan sebagai tempat pembuatan film, orang akan lebih tertarik untuk mengunjungi.
Selain itu, rekomendasi lainnya adalah penggabungan obyek wisata kultural dengan obyek wisata warisan budaya. Penggabungan akan menambah daya tarik situs wisata.
Wisatawan kultural dan warisan budaya ini dinilai lebih menguntungkan karena mereka biasanya tinggal lebih lama dari wisatawan biasa.
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan, untuk menarik pembuat film, biaya pembuatan film di Indonesia gratis. Salah satunya pada pembuatan ”Eat, Pray, and Love” di Bali. ”Tak ada pemasukan untuk pembuatan, tapi dampak setelah film beredar sangat menguntungkan,” katanya. (IRE)