Waspadai Leptospirosis Selama Musim Hujan

Kompas.com - 10/12/2010, 08:37 WIB

Surabaya, Kompas - Musim hujan yang mulai berlangsung dan menimbulkan banjir di berbagai wilayah menimbulkan risiko penyakit leptospirosis. Sepanjang pertengahan Oktober 2010 sampai pertengahan November, sebanyak 10 pasien leptospirosis dirawat di Rumah Sakit Umum Dr Soetomo, Surabaya.

”Selama musim hujan, jumlah pasien leptospirosis cenderung meningkat. Banjir yang merata terjadi di Surabaya juga meningkatkan potensi infeksi penyakit ini. Hampir 20 persen pasien datang ke rumah sakit setelah terlambat dan berisiko meninggal,” tutur anggota staf Divisi Penyakit Tropik Infeksi Departemen Penyakit Dalam RSU Dr Soetomo, dr M Vitanata Arfijanto SpPD, Kamis (9/12) di Surabaya.

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan bakteri Leptospira sp. Bakteri ini masuk ke tubuh manusia melalui luka di kaki, mulut, atau mata. Bakteri ini terbawa air seni tikus atau air seni hewan lain, seperti kuda, kambing, dan kucing, yang tercampur dalam genangan air hujan atau banjir.

Kepala Divisi Penyakit Tropik Infeksi Departemen Penyakit Dalam RSU Dr Soetomo, Prof Dr dr Suharto SpPD, mengingatkan, gejala awal berupa panas, nyeri otot terutama di kaki, dan mata merah harus diwaspadai. Panas yang disebabkan bakteri juga meningkat secara perlahan.

Ketika sudah berada di dalam pembuluh darah dan berkembang, bakteri bisa menyerang organ seperti ginjal, hati, otak, dan jantung. Ketika terjadi gangguan pada organ-organ ini dan tidak tertangani, akibat fatal bisa terjadi. Bahkan, leptospirosis bisa menyerang dan berkomplikasi dengan demam berdarah, tifus, dan malaria.

Terkadang, menurut Vitanata, bisa juga terjadi penurunan trombosit (trombositopeni) seperti dialami pasien demam berdarah. Namun pada pasien demam berdarah, biasanya jumlah leukosit juga turun. Adapun pada pasien leptospirosis, biasanya jumlah leukosit normal atau naik.

”Rapid test”

Vitanata mengatakan, ada tes cepat (rapid test) yang bisa dilakukan pada darah terduga. Tes ini bisa dilakukan tanpa biaya tambahan sebab alat tes cepat disediakan Dinas Kesehatan Jatim.

Selain itu, kata Vitanata, bisa dilakukan pula penghitungan skor kriteria Faine untuk menduga pasien leptospirosis. Beberapa kriteria itu antara lain sakit kepala, demam di atas 39 derajat Celsius, nyeri otot, dan berasal dari daerah endemis leptospirosis seperti daerah peternakan.

Kendati terdapat lebih dari 200 varian bakteri Leptospira di dunia, menurut Suharto, tidak semua bersifat patogen atau menimbulkan penyakit. Selain itu, umumnya pengobatan dengan antibiotik juga bisa mengatasi leptospirosis.

Untuk mencegah infeksi leptospirosis, pekerja di pemotongan hewan harus menggunakan sepatu bot, demikian pula untuk warga di daerah banjir. ”Sering kali orang malah melepas sepatu ketika terkena banjir atau kehujanan. Padahal, tindakan ini meningkatkan risiko terinfeksi apabila ada luka kecil di kaki," tutur Vitanata. (INA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau