Ruu pilkada

DPR akan Pelajari Draf Pemerintah

Kompas.com - 10/12/2010, 10:36 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah sudah merampungkan draf RUU Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dan siap menyerahkannya ke DPR. Dalam draf tersebut, ada perubahan mekanisme pemilihan kepala daerah khususnya Gubernur yang diusulkan pemerintah yaitu ditunjuk oleh DPRD.

Wakil Ketua DPR yang membawahi bidang politik dan hukum, Priyo Budi Santoso, mengatakan, draf usulan pemerintah tersebut akan dipelajari. "Silakan pemerintah serahkan draf dulu. Nanti akan kami pelajari. Pikiran-pikiran semacam itu (perubahan mekanisme) wajar, karena kita tengah memformat Pilkada," kata Priyo menjawab pertanyaan Kompas.com, Kamis (9/12/2010) malam.

Jika alasan yang diajukan pemerintah masuk akal, DPR akan membicarakan usulan tersebut. Priyo sendiri berpendapat, pemilihan langsung memakan biaya yang cukup mahal dari segi sosial dan ekonomi.

"Jadi pilihannya Pilkada diserentakkan atau kembali ke DPRD," ujar politisi Partai Golkar. Partai beringin sendiri, kata dia, belum memutuskan sikap terkait mekanisme pemilihan kepala daerah.

Dalam draf pemerintah, seperti diungkapkan Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri, Joehermansyah, perubahan sistem pemilihan kepala daerah tidak diusulkan untuk pemilihan bupati/walikota. Sebab, otonomi daerah selama ini masih dititikberatkan di level kabupaten/kota. Dengan demikian, pemimpin kabupaten/kota dinilai perlu mendapat legitimasi yang lebih kuat melalui pemilihan langsung.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau