Semifinal di GBK Punya Untung-Rugi

Kompas.com - 10/12/2010, 20:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelatih timnas Indonesia Alfred Riedl menilai, ada keuntungan dan kerugian dengan digelarnya dua partai semifinal melawan Filipina di Stadion Utama Gelora Bung Kano (SUGBK). Sebab, pasti ada ekspektasi yang tinggi terhadap Firman Utina dan kawan-kawan.

Sebelumnya diberitakan, Mantan Ketua PFF Jose Mari Martinez meminta kepada AFF menggunakan SUGBK untuk menggelar partai kandang pada semifinal leg pertama 16 Desember. Sebab, mereka tidak memiliki stadion yang layak untuk menggelar pertandingan internasional.

Setelah berkoordinasi dengan PSSI, AFF akhirnya mengabulkan permintaan PFF. Namun, keputusan tersebut ditentang oleh Presiden PFF yang baru Mariano Araneta. Selain itu, pelatih Filipina Simon McMenemy juga kecewa dengan keputusan itu.

Mereka berupaya mengajukan banding. Ada juga wacana yang menyebutkan bahwa Filipina akan menggunakan stadion di Vietnam.

Terlepas dari kontroversi tersebut, Riedl menilai, menggelar dua semifinal di kandang sendiri memiliki untung-rugi.

"Keuntungannya, kita mendapatkan dukungan penuh dari penonton dan tak perlu ke kandang Filipina untuk menjalankan laga away. Fisik kita juga tidak akan terkuras," jelas Riedl kepada wartawan usai memimpin sesi latihan tim di lapangan C, Jumat (10/12/2010).

"Sementara kerugiannya, kita menjadi lebih tertekan karena semua berharap menang dan kita melaju ke final," lanjut mantan pelatih Laos itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau