Bbm langka

Gila, Harga Premium Rp 15.000 Per Liter

Kompas.com - 10/12/2010, 22:35 WIB

KOTABARU, KOMPAS.com — Beberapa hari terakhir masyarakat Kotabaru, Kalimantan Selatan, resah karena premium di sejumlah daerah mulai langka dan, jikapun ada, harganya mencapai Rp 15.000 per liter.

Seorang warga Jalan Suryaganggawangsa Kotabaru, Sutomo, Jumat (10/12/2010), mengatakan tidak dapat mengoperasikan kendaraannya karena tidak ada kios yang menjual premium.

"Jika ada kios yang menjual premium, harganya mencapai Rp 15.000 per liter," katanya.

"Meski harganya lebih dari itu, masyarakat tetap saja akan membeli, yang penting barangnya ada," tambah guru SDN Sungai Pasir itu.

Namun sayang, beberapa hari terakhir kios-kios yang biasanya menjual premium kini tidak lagi berjualan karena mereka tidak diperbolehkan membeli premium dengan menggunakan jeriken.

Menurut warga Kotabaru, Mariono, akibat pengecer tidak diperbolehkan membeli bensin di stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) dengan menggunakan jeriken tersebut, tidak ada kios yang menjual besin di pinggir-pinggir jalan.

"Jika ada kios yang menjual, mereka mendapatkan dari pelangsir yang antre dengan kendaraan, lalu disedot dan dijual," terangnya.

Warga Kelumpang Selatan, Rahim, menambahkan, mereka terpaksa berjalan kaki, tetapi sebagian menggunakan sepeda ontel untuk berangkat kerja di perkebunan kelapa sawit dan aktivitas lainnya.

Hal yang sama juga dialami oleh masyarakat di beberapa daerah kecamatan di Kotabaru.

Bahkan untuk menyiasatinya, sebagian warga terpaksa antre premium dengan menggunakan kendaraan roda dua di SPBU.

Sesampai di rumah atau di tempat sunyi, tangki kendaraan yang telah berisi premium sekitar 4 liter itu disedot untuk disimpan, bahkan dijual dengan harga yang telah disepakati kedua belah pihak.

Selanjutnya mereka kembali antre ke SPBU lain agar tidak ketahuan oleh petugas SPBU.

Pantauan di lapangan, sejak pukul 06.00 Wita, sejumlah SPBU di Kotabaru telah dipadati kendaraan roda empat dan roda dua yang antre premium.

Di antara antrean panjang tersebut, tidak tampak warga yang antre bensin dengan menggunakan jeriken karena petugas SPBU tidak lagi melayani pembelian premium dengan jeriken.

Hal itu yang menyebabkan masyarakat kesulitan untuk mendapatkan premium di tempat pengecer sehingga harganya mencapai Rp 15.000 per liter.

Rata-rata mereka baru mendapatkan premium setelah mengantre selama dua sampai tiga jam.

Kepala Depo Pertamina Kotabaru Imam Hardjito hingga saat ini belum berhasil dikonfirmasi terkait pembatasan pembelian premium bagi pengecer yang menggunakan jeriken.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau