Nama petani jagung di Desa Danyang, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, ini pendek, yakni Wardi. Tapi pemikiran Wardi guna memajukan usaha tani jagung di kelompoknya ternyata luas.
Setelah 12 tahun menggeluti jagung, Wardi dengan Kelompok Tani ”Karya Tani” akhirnya memiliki modal usaha Rp 500 juta. Kelompok tani ini membawahkan 185 petani dengan cakupan lahan seluas 17.000 hektar.
”Kelompok tani saya sudah mendirikan koperasi. Usaha sampingan koperasi membuka toko sarana produksi khusus jagung dan padi yang siap membantu budidaya anggota kelompok,” ujarnya saat ditemui di rumahnya di Desa Danyang, Kamis (9/12).
Wardi mengisahkan, pola tanam petani di Grobogan rutin padi-padi-palawija. Jagung, kedelai, dan kacang hijau jenis palawija favorit yang ditanam petani di kala kemarau. Artinya, jagung pun mestinya ditanam di lahan tadah hujan, lahan bekas hutan atau ladang.
Namun, petani di daerah ini justru banyak yang menanam jagung di sela-sela tanaman padi di musim hujan. Ternyata kondisi lahan mendukung jagung tumbuh dengan baik.
Petani lain di Kecamatan Wirosari, Suheri, mengemukakan, penghasilan dari budidaya jagung dalam 102 hari cukup besar. Jika tanamannya subur, jagung bisa menghasilkan delapan ton jagung pipilan. Jika harganya Rp 1.625 per kilogram, maka pendapatan kotor petani Rp 13,7 juta.
”Selama dua tahun ini harga jagung tak pernah di bawah Rp 1.800 per kilogram. Itu artinya petani masih untung. Misalnya dari pendapatan Rp 13,7 juta tadi dikurangi biaya budidaya penghasilan bersihnya masih Rp 4,8 juta,” kata Suheri.
Suwadi, petani di Desa Jumo, Kecamatan Kedungjati, yang mengupayakan lahan 3.000 meter persegi mengakui bila kemarau lahannya bisa menghasilkan jagung satu ton atau senilai Rp 2 juta.
”Lahan di Jumo ini lahan pegunungan tandus yang sulit air pada saat kemarau maupun hujan. Tapi kami bisa menanam jagung,” kata Suwadi.
Tak ada tanaman jagung yang dibuang. Setelah panen, pohon dan kulit jagung dimanfatkan untuk pakan kerbau dan sapi, bonggol jagung untuk kayu bakar.
Kondisi yang dialami para petani tersebut merupakan gambaran betapa jagung menjadi potensi daerah Grobogan.
Kepala Subbagian Perencanaan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Dipertan TPH) Grobogan Sunanto menuturkan, lahan potensi jagung di Grobogan tersebar di 10 kecamatan, yakni di Ngaringan, Wirosari, Kradenan, Geyer, Purwodadi, Brati, Toroh, Tawangharjo, Tanggungharjo, dan Kedungjati.
Jagung yang ditanam di lahan non-irigasi yang sebagian besar lahannya bekas kawasan hutan ternyata memberi kesuburan baik. Lahan jagung mencapai 56.654 hektar setiap tahun rata-rata produksi 5-6 ton per hektar. Pada 2009 produksi jagung menembus 699.000 ton.
”Dengan produksi sebesar itu, sumbangan jagung ke produksi Jateng sekitar 20 persen dari 1,8 juta ton. Produksi jagung Grobogan tiga kali lipat produksi Provinsi Gorontalo yang hanya kisaran 250.000 ton,” kata Sunanto.
Untuk meningkatkan pengetahuan petani akan mutu tanaman jagung, pemerintah setempat mengembangkan sekolah lapang. Jagung jadi tanaman kedua setelah padi, sebagai penopang ekonomi hampir 75 persen penduduk daerah ini.
Atas keberhasilan mengembangkan jagung, banyak anggota kelompok tani Wardi menjadi mitra perusahaan yang memiliki produk benih jagung Pioneer 21 yang dirintias sejak 2003.
Menurut Ketua Mitra Andalan Pioneer (MAP) Hardiono, kemitraan itu menjalin 35 petani andalan yang memiliki kelompok tani, tak hanya dari Grobogan, tapi meluas ke Pati, Kudus, dan Blora.
Ketua II Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Grobogan Edi Purwanto menyatakan, semangat petani mengembangkan jagung sebagai potensi ekonomi harus diimbangi pemerintah daerah.
Para petani jagung saat ini mendambakan Grobogan memiliki pabrik pakan ternak. (Winarto Herusansono)