Isu Penculikan Anak Resahkan Padang

Kompas.com - 12/12/2010, 20:35 WIB

PADANG, KOMPAS.com - Warga Kota Padang, Sumatera Barat, Minggu (12/12/2010) makin termakan beragam isu setelah sebelumnya sempat dilanda kepanikan akibat beredarnya layanan pesan singkat melalui telepon genggam soal gempa bumi dahsyat yang akan terjadi pada akhir November lalu.

Saat ini, sebagian warga Kota Padang tengah dihinggapi keresahan mengenai isu penculikan anak untuk diperjualbelikan organ-organ tubuhnya.

Sebagai akibatnya, aktivitas di sekitar pusat Kota Padang saat ini cenderung sepi. Aktivitas perekonomian di sekitar Pasar Raya Kota Padang pun tidak seramai sebelum beragam isu tersebut menyebar di tengah masyarakat.

"Ya, sekarang hampir semua orang bicara soal penculikan anak itu," kata Ramli, salah seorang warga Kota Padang. Akibat kabar yang tidak jelas kebenarannya itu, sebagian besar orangtua menjadi sangat khawatir dan cenderung berlebihan dalam mengawasi anak-anak mereka.

Kabid Humas Polda Sumbar AKBP Agus B. Kawedar pada hari yang sama mengatakan isu penculikan anak yang akan diambil organ-organ tubuhnya itu serupa dengan penyebaran isu gempa dahysat yang sebelumnya terjadi. Namun, hingga sejauh ini polisi belum mampu mengungkap siapa pelaku penyebar isu yang meresahkan masyarakat itu.    

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau