Ibas Yakin Demokrat Tak Anjlok di Yogya

Kompas.com - 12/12/2010, 23:38 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com -  Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) merasa yakin perolehan suara partai bikinan bapaknya, Susilo Bambang Yudhoyono, tidak akan anjlok di Yogyakarta. 

Ibas menangkal pesimisme itu terkait pengunduran GBPH Prabukusumo sebagai anggota dan Ketua DPD Partai Demokrat setempat. Ibas sampai merasa perlu mengundang wartawan untuk menyiarkan keterangannya di Jakarta, Minggu (12/12/2010).

Katanya, dukungan partainya berdasarkan kinerja kader, bukan dari polemik yang timbul.  "Kami akan konsisten menjadikan kepentingan masyarakat Yogyakarta sebagai landasan kokoh penyelesaian polemik ini. Sebagai partai pendukung pemerintah, tentu sikap Partai Demokrat mendukung setiap program pemerintah termasuk program-program pro rakyat," klaim Ibas.

Terkait pengunduran GBPH Prabukusumo, Ibas mengatakan, pihaknya menghormati keputusan itu dan mengapresiasi kinerja Prabukusumo selama ini. 

"Partai Demokrat mengabulkan pengunduran diri tersebut, memproses sesuai mekanisme yang berlaku dan kemudian menunjuk saudari Angelina Sondakh sebagai pelaksana tugas sampai Musyawarah Daerah (Musda) DIY mendatang," kata Ibas.

Dia mengatakan, polemik mengenai RUU Keistimewaan Yogyakarta sebaiknya diselesaikan dengan kepala dingin. Perbedaan pandangan memang wajar muncul dipermukaan karena ini merupakan proses terwujudnya undang-undang yang berkualitas.    

"Jangan sampai kita berpolemik terlalu jauh sehingga kehilangan arah akibat polemik ini. Menurut saya, diskursus ini justru harus diselesaikan dengan kepala dingin, artinya bagaimana nilai-nilai demokrasi dan sistem Keistimewaan DIY bisa berjalan selaras," katanya.

Anggota DPR RI ini menambahkan, ada mekanisme penggodokan di DPR RI yang harus dihargai prosesnya. Partai Demokrat menghargai seluruh pandangan/aspirasi yang berkembang tetapi juga menginginkan proses ini berlangsung secara tenang dan berpikir jernih.

Menurut dia, terbuka opsi-opsi, apakah pengangkatan tanpa pemilihan (ditetapkan), apakah pemilihan dengan suksesi kesultanan (demokrasi terpimpin) atau apakah pemilihan dengan terbuka (open democracy).

Yang jelas, katanya, sistem Kesultanan Yogyakarta tidak bisa dihilangkan karena sebagai bagian nilai budaya bangsa Indonesia. "Kami tetap berpendapat bahwa Sri Sultan masih yang terbaik saat ini," katanya.  

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau