Dukung penetapan

Hari Ini Ribuan Warga Yogya Unjuk Rasa

Kompas.com - 13/12/2010, 07:53 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Hari ini, Senin (13/12/2010), ribuan masyarakat Yogyakarta akan turun ke jalan. Mereka akan berkumpul di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Yogyakarta, menghadiri sidang paripurna yang membahas Rancangan Undang-Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kawasan perdagangan Jalan Malioboro dan Jalan A Yani di Kota Yogyakarta dipastikan bakal lumpuh. Para pedagang memilih menutup kegiatan usahanya untuk menghadiri sidang tersebut.

Kepastian penutupan itu disampaikan sejumlah pedagang di kawasan yang tak pernah "mati" itu. "Kami siap ikut demo. Ikhlas saja kalau harus libur sehari. Kami mendukung penetapan Sultan (Sultan Hamengku Buwono X) sebagai gubernur," kata dua pedagang kaki lima, Sumiyati (37) dan Eko (32), Minggu (12/12/2010).

Pedagang batik dan cendera mata anggota Tri Dharma itu mengaku bisa kehilangan omzet sebesar Rp 100.000-Rp 300.000 jika menutup dagangannya. "Demi solidaritas, kami rela. Ikhlas," ujarnya.

Ketua Paguyuban Parkir Malioboro Sigit Karsana Putra mendukung penuh pergerakan massa. Ia sudah mengoordinasikan rekan-rekannya agar ikut berunjuk rasa. "Akan ada pembagian tugas, ada yang berdemo, dan ada yang jaga parkir," ujarnya.

Sejumlah pengusaha di kawasan Malioboro yang tergabung dalam berbagai paguyuban juga mengaku siap mendukung aksi dan menutup usahanya. Mereka antara lain Paguyuban Tri Dharma, Pemalni, Komunitas Juru Parkir, Patma, Handayani, Pamarta, Paguyuban Pedagang Lesehan Malioboro (PPLM), Paguyuban Pengusaha Malioboro (PPM), dan Paguyuban Pengusaha Ahmad Yani (PPAY).

Minggu sore setiap pengurus paguyuban sibuk mengonsolidasikan para pedagang. Seperti yang dilakukan Paul Zulkarnaen, Humas Paguyuban Tri Dharma. Tak menghiraukan banyaknya pejalan kaki di kawasan Jalan Malioboro, ia terus berteriak.

"Teman-teman, baik yang asli Jogja maupun pendatang, kita harus ikut sidang penetapan RUUK di DPRD! Semuanya wajib libur dari pukul 06.00 WIB hingga 21.00 WIB," teriak Paul sambil berjalan di kawasan wisata itu.

Kepada Tribun Jogja, Humas Tri Dharma tersebut mengatakan, apabila ada toko yang tetap buka, ia menganggapnya sebagai pengkhianat. Hal itu karena bertolak belakang dengan solidaritas rakyat yang mendukung penetapan Sultan sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

"Bukan hanya sanksi moral, kami akan menegur dan menutup toko untuk beberapa waktu," tegasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau