Pindah Gigi Lebih Tinggi

Kompas.com - 13/12/2010, 07:56 WIB

OLEH FAISAL BASRI

Pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini melesat mendekati 5 persen dari minus 0,6 persen tahun lalu. Sekalipun pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat sempat melemah pertengahan tahun ini dan angka pengangguran naik mendekati 10 persen, bayang-bayang bakal terjadi double-dip recession kian meredup. Belitan utang yang melanda euro zone tak sampai membuat stagnasi karena ditolong oleh pertumbuhan ekonomi Jerman yang lumayan bagus tahun ini.

Sementara itu, negara-negara emerging market makin mantap sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi dunia. Dipimpin oleh China dan India, kelompok negara yang paling dinamis ini menyumbang sekitar 50 persen pertumbuhan ekonomi dunia.

Tak berarti lantas perekonomian dunia bakal sepi dari masalah dan terbebas dari krisis. Gejolak tampaknya tak akan mereda. Transaksi keuangan global sudah mencapai taraf yang tak terperikan. Terjadi pula financialization of commodities sehingga menambah turbulensi perekonomian dunia.

Selain itu, ada sejumlah faktor yang membuat kekakuan dalam merespons krisis dan gejolak. Dispersi kekuatan politik di sejumlah negara memperlambat penyesuaian yang bersifat struktural. Bukti terakhir adalah kompromi yang terpaksa ditempuh Presiden Amerika Serikat Barack Obama untuk memperpanjang pemotongan pajak bagi orang kaya yang diinisiasikan oleh Presiden George Bush. Rigiditas penyesuaian juga bersumber dari penyatuan mata uang Eropa sehingga mempersulit negara-negara seperti Yunani, Portugal, Italia, dan Spanyol dalam menjaga daya saing ekspor mereka.

Menghadapi dunia yang makin dinamis tetapi tak pernah sepi dari gejolak, setiap negara dituntut untuk memperkuat fondasi dan bersiasat lebih jitu. Dengan memperkuat fondasi, daya tahan perekonomian bakal lebih kokoh dalam menghadapi terjangan dari dalam maupun dari luar.

Namun, ketika perekonomian dunia cepat pulih, kita mulai terseok-seok menjaga momentum. Pertumbuhan ekonomi kita tahun ini paling lambat di antara ASEAN-5, bahkan dibandingkan Vietnam sekalipun.

Padahal, kurang apa lagi? Konsumsi rumah tangga (private consumption) tetap tumbuh cukup kencang. Investasi pun mulai merangkak naik. Demikian juga ekspor. Ironisnya, pemerintah jadi penghambat. Selama Januari-September, pertumbuhan konsumsi pemerintah justru merosot atau mengalami pertumbuhan negatif sebesar 4,6 persen.

Belanja modal pemerintah kian seret sehingga gagal menciptakan komplementaritas dengan kebutuhan sektor swasta untuk tumbuh lebih kencang. Sementara itu, pembenahan birokrasi tak menampakkan hasil signifikan. Berbisnis di Indonesia makin sulit dibandingkan dengan negara-negara lain yang berbenah lebih sigap.

Sementara itu, Indonesia semakin berbinar di radar investor. Sepanjang tahun ini hingga 8 Desember, pertumbuhan pasar saham kita tertinggi di dunia, baik dalam mata uang lokal maupun dalam dollar AS, masing-masing naik 49 persen dan 55 persen.

Tak hanya dalam hal investasi portofolio. Investasi asing langsung pun tumbuh berlipat ganda sehingga perbandingan antara investasi ”madu” (investasi asing langsung) dan ”racun” (investasi asing portofolio) membaik dari 1:5 pada tahun 2009 menjadi 1:2 selama 9 bulan pertama tahun ini. Publikasi terbaru United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) menunjukkan bahwa Indonesia kian menarik bagi perusahaan-perusahaan transnasional sebagai tujuan investasi. Posisi kita berada pada urutan ke-9 setelah China, India, Brasil, Amerika Serikat, Rusia, Meksiko, Inggris, dan Vietnam. Untuk pertama kali dalam satu dekade terakhir kita lebih menarik ketimbang Thailand dan Malaysia.

Investor asing kian menyadari potensi jangka menengah dan panjang kita. Karena itu, mereka mulai mengambil ancang-ancang untuk mengeksploitasi pertumbuhan kelompok menengah kita yang serba haus mengonsumsi fast moving consumer products dan barang-barang tahan lama.

Dalam sepuluhan tahun terakhir, kelompok menengah tumbuh pesat. Jumlah penduduk dengan pengeluaran per kapita per hari 2-4 dollar AS (sekitar Rp 18.000-Rp 36.000) naik hampir dua kali lipat, dari 37,5 juta orang tahun 1999 menjadi 68,8 juta tahun 2009. Merekalah yang sudah keluar dari jeratan kemiskinan dan mulai bisa mencicil sepeda motor.

Kelompok pengeluaran 4-10 dollar AS tumbuh lebih pesat lagi, hampir tiga kali lipat. Mereka ini yang memadati mal-mal dan memburu barang-barang tahan lama. Lebih menjanjikan lagi adalah kelompok pengeluaran 10-20 dollar AS yang naik lebih dari lima kali lipat, dari 0,4 juta orang tahun 1999 menjadi 2,23 juta orang.

Pertumbuhan daya beli yang pesat di semua kelompok pengeluaran tersebut menjadi daya tarik utama bagi investor untuk segera masuk ke Indonesia. Jika di antara mereka mengalami kesulitan berinvestasi di sini, mereka akan menambah kapasitas produksi di negara tetangga sekeliling kita, karena praktis sudah tak ada lagi hambatan masuk dalam perdagangan intra-ASEAN.

Itulah potensi dahsyat Indonesia dalam jangka menengah ke depan. Ditambah lagi dengan prediksi bahwa bioritmik (business cycle) perekonomian kita—setidaknya hingga tahun 2015—akan terus mengalami ekspansi. Dengan demikian, walaupun pertumbuhan ekonomi dunia tahun depan diperkirakan melambat, mereka yakin pertumbuhan di Indonesia akan terus mengakselerasi.

Ditambah lagi dengan berbagai indikator makroekonomi yang sedemikian banyak menunjukkan perbaikan pada waktu bersamaan—yang untuk pertama kali terjadi dalam 12 tahun terakhir—sepatutnya bisa kita manfaatkan semaksimal mungkin.

Jika perbaikan di dalam negeri berjalan lambat dan kecepatan pemerintah merespons lewat kebijakan-kebijakan hanya alakadarnya, perekonomian kita akan tetap saja bergerak dengan kecepatan terbatas.

Saatnya pada tahun 2011 nanti kita berpindah gigi lebih tinggi—shifting into higher gear.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau