Christmas island

Kapal Tenggelam, 50 Imigran Gelap Tewas

Kompas.com - 15/12/2010, 15:42 WIB

SYDNEY, KOMPAS.com - Sedikitnya 50 pencari suaka, termasuk anak-anak, dikhawatirkan tewas, Rabu (15/12), setelah kapal mereka hancur berkeping-keping di laut yang bergolak di lepas pantai Australia dan para saksi mata yang tak berdaya hanya bisa menyaksikan kengerian itu.

Menurut Royal Flying Doctor Service sebagaimana diberitakan AFP, sebanyak 36 orang terluka, termasuk tiga orang kritis, dalam bencana di lepas pantai Christmas Island itu. Penduduk setempat menyaksikan kengerian itu sebagai tragedi di depan mereka, yang tak berdaya untuk membantu para korban yang terempas di bebatuan dan dihajar puing-puing kapal ketika mereka mengapung di laut yang berputar-putar.

"Ada anak-anak di dalam air. Ada satu anak yang sangat kecil di jaket pelampung yang mengambang terlengkup dalam waktu yang sangat lama, pasti sudah tewas," kata seorang pemilik toko souver setempat, Simon Prince, kepada Sky News. "Ini sesuatu yang saya tidak akan lupa dalam waktu singkat."

Para penduduk, yang terbangun menjelang fajar karena mendengar jeritan para korban, mengumpulkan jaket pelampung dan bergegas ke tebing-tebing kapur bergerigi untuk membantu para korban, tetapi angin kencang meniup kembali pelampung ke darat. "Kami bisa mendengar teriakan itu," kata Ingrid Avery sambil menangis kepada Radio Melbourne. "Jeritan, teriakan dan saya bisa mendengar teriakan anak-anak."

Saksi lain, Phillip Stewart mengatakan, ia melihat orang-orang tenggelam setelah kapal mereka pecah karena dihantam gelombang besar ke tebing bergerigi di pulau terpencil itu. "Tragedi itu berlangsung selama beberapa waktu dan kami melihat orang-orang itu benar-benar tenggelam," katanya. Kapal Angkatan Laut berhasil menyelamatkan beberapa orang dari air, tetapi pihak berwenang belum dapat memastikan jumlah korban tewas, hilang atau yang selamat.

Pemerintah Australia mengatakan insiden tragis yang terjadi di bagian Samudra Hindia dari Christmas Island itu melibatkan kapal ilegal. Kapal itu diduga merupakan kapal ikan asal Indonesia yang disewa para imigran gelap. Para saksi mata mengatakan, kapal itu penuh sesak dengan penumpang, kebanyakan keluarga, dan sejumlah orang berbaring lesu dan sakit di geladak yang hanyut tanpa daya listrik dan menabrak bebatuan.

"Gelombang datang dan perahu itu menghantam bebatuan dan kemudian menghancurkan perahu, orang-orang kemudian mengapung di sekitarnya," kata anggota dewan lokal, Kamar Ismail, kepada AFP. Ismail mengatakan, penduduk setempat telah mencoba yang terbaik untuk menarik mereka yang selamat dari air. "Namun  kami tidak bisa berbuat banyak karena laut sangat, sangat bergejolak. Setelah menghantam batu, kapal itu hancur berkeping-keping. Saya mendengar orang berteriak minta tolong, kami hanya berkata kepada mereka, 'Kami tidak bisa, kami tidak bisa berbuat banyak, kami hanya bisa melemparkan jaket, itu saja.'"

Negara asal orang-orang di atas kapal kayu itu belum dikonfirmasi tetapi laporan mengatakan, mereka kebanyakan dari Iran dan Irak. Ribuan pencari suaka asal Irak, Afganistan dan Sri Lanka telah menyeberang Australia tahun ini, sering dengan kapal ikan yang reyot dari Indonesia.

Christmas Island, sebuah pulau kecil dan terpencil di Samudra Hindia yang berjarak sekitar 2.650 kilometer di sebelah barat laut Perth. Di pulau itu Australia memiliki pusat penahanan imigrasi utama dan semua pencari suaka yang tiba dengan perahu dibawa ke sana.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau