Sepak bola

Mencari Pengobat Rindu di Senayan

Kompas.com - 16/12/2010, 04:55 WIB

Oleh Agung Setyahadi dan Prasetyo Eko P

Syukur (38) akhirnya membuat alasan sakit ke kantornya supaya bisa membeli tiket semifinal Piala Suzuki AFF 2010, Indonesia lawan Filipina. Tenaga penjualan di sebuah perusahaan itu berangkat dari rumahnya di Bogor, Jawa Barat, pagi-pagi supaya bisa mengantre tiket di urutan depan. 

Penggila sepak bola itu tiba di kompleks Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Rabu (15/12) sekitar pukul 10.00 WIB. Ternyata, ia harus mengantre di belakang dan baru memperoleh lima tiket kategori II seharga Rp 100.000 pada pukul 14.00. Selama empat jam dia berpanas-panasan di tengah antrean yang mengular sepanjang hampir 500 meter.

”Demi memperoleh tiket ini, saya harus bolos kerja dan tidak makan siang,” ujar Syukur.

Lain lagi Asdila Saputra yang mengorbankan waktu istirahat siang demi memperoleh tiga tiket kategori I seharga Rp 150.000 per lembar. Padahal, pemuda berusia 21 tahun itu harus masuk kerja malam di perusahaan jasa keamanan.

Warga Kemanggisan ini mengantre sejak pukul 10.00 supaya bisa mendapat tiket untuk menyaksikan langsung kiprah tim besutan Alfred Riedl melawan Filipina di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Kamis (16/12) pukul 19.30.

”Dari awal saya sudah menyisihkan uang untuk menonton semua pertandingan yang digelar di sini. Tiket dinaikkan nggak masalah, kapan lagi bergembira seperti ini,” ujar Asdila.

Di tengah antrean tiket itu, ada juga nona-nona yang rela tersengat terik sinar matahari. Indri (18) yang menemani pacarnya, Lingga (18), contohnya. Mahasiswa Universitas Gunadarma itu sudah tiga jam berpanas-panasan demi empat lembar tiket untuk mereka dan dua temannya. Indri rela mengantre agar bisa ikut merasakan langsung euforia di lapangan saat tim ”Merah Putih” menang. Rasa bangga sebagai bangsa Indonesia membuncah saat tim nasional menang tiga kali atas Malaysia, Laos, dan Thailand. ”Rasa nasionalisme saya sekarang ini sedang bergelora. Saya bangga sekali dengan tiga kemenangan yang lalu. Bagi saya, itu sebuah inspirasi untuk maju. Bangsa ini bisa maju jika dikelola dengan benar,” ujar Indri yang mengidolakan si ganteng Irfan Bachdim.

Indri dan Lingga selama ini tidak pernah menonton langsung pertandingan sepak bola di Liga Indonesia. Mereka tidak merasakan gereget kebanggaan karena kompetisi dinilai tidak sehat. ”Sepak bola kita selama ini kacau, nggak membanggakan sama sekali. Baru kali ini saya mau menonton langsung karena ada sesuatu yang lain. Ada harapan sepak bola kita maju,” ujar Lingga.

Untuk membeli tiket itu, Lingga dan Indri menyisihkan uang jajan mereka. Konsekuensinya, mereka harus menekan pengeluaran.

Bukan hanya anak-anak muda yang merasakan kebanggaan itu. Contohnya, pasangan kakek-nenek Mujito (66) dan Sulaningsri (62). Pasangan sepuh ini memang tidak mengantre tiket. Warga Ragunan ini memburu pernak-pernik timnas, seperti replika kaus, syal, dan jaket, untuk dua cucunya.

”Sepak bola kita bisa menjadi kebanggaan. Inilah buktinya. Saya hanya berharap, setelah ini, pengurus PSSI bisa meningkatkan prestasi, jangan kemudian terpuruk lagi,” ujar Mujito yang mantan marinir itu.

Rindu prestasi

Fenomena membeludaknya penonton saat ini dipandang oleh mantan pemain timnas Rully Nere sebagai kerinduan atas prestasi sepak bola Indonesia. Antusiasme penonton Indonesia memang sudah mendarah daging sejak sebelum ia menjadi pemain timnas.

”Hasil positif tiga laga sebelumnya meningkatkan animo penonton. Ini bukti masyarakat merindukan prestasi tim nasional yang membanggakan,” kata gelandang asal tanah Papua itu.

Prestasi timnas selama ini mengecewakan. Sejak tahun 1991, tim Merah Putih tidak pernah meraih gelar bergengsi sekalipun di tingkat Asia Tenggara. Rekor terbaik timnas adalah tiga kali beruntun masuk final Piala AFF 2000-2004.

Leg pertama semifinal ini bakal ditonton langsung sekitar 70.000 pendukung timnas. Panitia mencetak 70.725 tiket. Tiket untuk kategori VVIP, VIP, tribune timur, dan tribune barat sudah terjual habis dalam tiga hari penjualan sejak Senin. Tiket diserbu karena laga ini bisa menjadi pengobat rindu pada kemarau prestasi di negeri penggila sepak bola ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau