Bencana code

567 Pelajar Masih Mengungsi

Kompas.com - 16/12/2010, 06:03 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS - Sebanyak 567 pelajar di Kota Yogyakarta masih mengungsi karena banjir lahar dingin di Kali Code, Kota Yogyakarta. Kondisi ini dikhawatirkan menghambat proses pembelajaran mereka. Sebagian dari para pelajar itu juga kehilangan perlengkapan sekolah.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Budi Asrori mengatakan, sebanyak 567 pelajar tersebut diketahui berasal dari 64 sekolah jenjang SD hingga SMA/SMK. Mereka adalah pelajar yang tinggal di bantaran Kali Code yang masih harus mengungsi jika air sungai naik.

”Jumlahnya diperkirakan masih akan bertambah karena sejumlah sekolah masih mengirimkan data,” katanya, Rabu (15/12) di Yogyakarta. Sejauh ini, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta telah mengimbau sekolah-sekolah di Kota Yogyakarta untuk turut membantu para pelajar tersebut.

Salah satunya dengan menyediakan perlengkapan sekolah bagi pelajar yang kehilangan, seperti seragam, alat tulis, dan buku pelajaran. Sekolah-sekolah juga diharapkan mengantisipasi ketertinggalan pelajaran para pelajar tersebut dengan menyediakan tambahan waktu belajar di luar waktu sekolah.

Akan tetapi, sejauh ini belum ada alokasi dana khusus dari pemerintah untuk membantu para pelajar tersebut. ”Sejauh ini, kami masih berusaha memetakan permasalahan dan bantuan apa yang diperlukan,” tutur Budi.

Secara terpisah, Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta Rapingun menegaskan, lahan yang disediakan untuk relokasi sementara warga bantaran Code tetap di lahan milik Pemerintah Provinsi DIY di daerah Jalan Kenari, Kecamatan Umbulharjo. Ia menanggapi penolakan sebagian besar warga Jogoyudan, Kecamatan Jetis, yang menilai lokasi tersebut terlalu jauh dari rumah mereka.

Camat Jetis Sisruwadi mengungkapkan, dari 222 keluarga di Jogoyudan, hanya 81 keluarga yang sudah menyatakan bersedia direlokasi ke Jalan Kenari. ”Sisanya belum bersedia dengan berbagai alasan. Ada yang sudah mengontrak sendiri, mengungsi ke rumah saudara, atau tetap bertahan karena menilai letak relokasi terlalu jauh,” ujarnya.

Sebagian besar warga Jogoyudan menginginkan relokasi di lahan eks Hotel Trio di Jalan Mangkubumi, yang jaraknya lebih dekat dari permukiman mereka. ”Tapi, lahan itu milik perorangan, yakni milik Probosutedjo. Kami sudah mengajukan permintaan untuk memakai lahan itu sebagai lokasi hunian sementara, tetapi belum ada tanggapan,” ujar Sisruwadi.

Karena itu, Rapingun menambahkan, rencana relokasi tetap pada lokasi semula, yakni lahan pemerintah provinsi di Jalan Kenari. Selain statusnya milik pemerintah yang bisa dipakai dalam jangka panjang, lahan itu juga lebih luas yang otomatis bisa menampung lebih banyak hunian sementara. ”Kami akan terus memberikan pengertian kepada warga yang belum mau direlokasi agar bisa menerima lokasi tersebut,” ujarnya. (ENG/IRE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau