Dugaan suap

Gayus Dikonfrontasi dengan Kompol Iwan

Kompas.com - 16/12/2010, 18:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Penyidik Bareskrim Mabes Polri mengonfrontasi tersangka Gayus Halomoan Tambunan dengan Kompol Iwan Siswanto, mantan Kepala Rutan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, di Bareskrim Polri, Kamis (16/12/2010). Konfrontasi itu terkait kasus dugaan suap.

Berlin Pandiangan, penasihat hukum Iwan, mengatakan, konfrontasi dilakukan untuk memenuhi petunjuk jaksa peneliti (P-19) dalam berkas perkara. Pasalnya, ada perbedaan keterangan antara Gayus dan Iwan. Saat dikonfrontasi, kata Berlin, Gayus tetap tidak mengakui telah memberikan uang ke Iwan ataupun delapan petugas rutan.

Sebaliknya, sembilan polisi itu mengaku menerima uang selama memberi izin ke Gayus untuk keluar dari rutan sejak Juli 2010. "Gayus bilang dia minta keluar (rutan) terus dikasih. Semua (polisi) sudah ngaku. Tadi hanya soal itu aja dikonfrontasi," kata dia.

Seperti diberitakan, jaksa peneliti mengembalikan berkas perkara Gayus dan Iwan untuk dilengkapi. Gayus diduga menyuap Iwan dengan total Rp 368 juta. Selama di luar, Gayus menginap di rumahnya di kawasan Kelapa Gading. Terakhir dia kepergok pelesir ke Bali bersama istri dan putranya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau