Bagaimana Cara Menangis yang Sehat?

Kompas.com - 17/12/2010, 13:07 WIB

KOMPAS.com — Selama ini seakan ada aturan tak tertulis yang mengatakan bahwa pria ataupun wanita dewasa tidak boleh menangis. Seakan ada penilaian bahwa menangis itu untuk orang yang lemah, tidak tahan banting, dan lainnya. Nyatanya, para psikolog dan peneliti justru mengatakan, menangis itu perlu.

Sebuah studi yang menganalisis artikel-artikel penelitian yang pernah berlangsung sejak 140 tahun lalu mengenai tangisan menyimpulkan, tangisan adalah cara yang baik untuk mengeluarkan rasa sakit yang terpendam. Sebuah sampel dari 30 negara terhadap pria ataupun wanita menghasilkan kesimpulan bahwa manusia merasa jauh lebih lega setelah ia menangis. Bahkan sekitar 70 persen terapis mengatakan, mereka percaya bahwa menangis adalah hal yang bagus untuk pasien mereka.

Keuntungan yang terutama dari menangis adalah kemampuannya untuk membantu membersihkan perasaan lewat kelegaan emosional. Saat kita menangis, terjadi kelepasan ketegangan, kesedihan, dan emosi-emosi negatif lainnya yang menyebabkan rasa sakit dalam dada. Dalam banyak hal, menangis menjadi keran yang aman untuk mengizinkan Anda mengeluarkan emosi yang telah terpendam lama di dalam Anda.

Memang masih sulit bagi para peneliti untuk mengetahui bagaimana tangisan bekerja untuk tubuh kita. Sebab, jika tangisan terjadi akibat sebuah setting laboratorium, misalnya, meminta responden menonton film sedih, banyak responden yang mengutarakan bahwa mereka justru merasa lebih parah dari perasaan sebelum menonton film.

Di lain pihak, banyak orang yang mengatakan bahwa tangisan yang melegakan membuat kita merasa lebih enak. Satu studi yang meninjau lebih dari 3.000 laporan detail mengenai aktivitas tangisan menemukan bahwa kebanyakan orang mengalami peningkatan mood baik seusai menangis. Studi terhadap 196 wanita di Belanda mengatakan, 9 dari 10 responden merasa lebih nyaman seusai menangis.

Menariknya, seorang peneliti di Israel mencari tahu aspek evolusi dari menangis. Ia berspekulasi, menangis merupakan sebuah cara untuk mengomunikasikan kelemahan diri kepada orang lain karena air mata saat menangis membuyarkan pandangan dan membuat diri tanpa pertahanan. Orang yang peduli dan ada pada saat Anda sedang menangis bisa mendekatkan emosi di antara Anda dan dia.

Cara mendapatkan tangisan yang sehat:

Para peneliti menemukan bahwa untuk membuat tangisan memiliki dampak yang menyehatkan bagi kesehatan emosional, dibutuhkan kondisi tertentu, antara lain:
* Anda harus memiliki orang untuk bersandar dan berkeluh kesah. Orang yang mendapatkan dukungan saat menangis dilaporkan memiliki pembersihan emosi yang lebih baik ketimbang mereka yang menangis sendiri. Cobalah cari teman atau orang terkasih yang bisa berempati terhadap masalah yang Anda alami.

* Setelah menangis, alangkah lebih baik jika Anda berhasil menemukan solusi dari permasalahannya. Kita akan merasa lebih baik ketika kita menangisi sebuah masalah yang sudah ada solusinya. Jika Anda menangis sebelum Anda menghadapi situasi yang membuat Anda ingin menangis, Anda cenderung sulit meraih hasil dari menangis itu atau malah membuat diri Anda merasa lebih parah.

* Anda perlu memastikan bahwa Anda menangis di tempat yang tepat. Mereka yang merasa malu saat menangis, berdasarkan laporan, tidak merasakan kebersihan emosi ataupun peningkatan mood. Jika Anda merasa malu menangis di tempat umum atau di depan beberapa orang, sebaiknya Anda tahan tangis itu, pergi ke tempat yang lebih aman, misalnya, toilet.

* Tangisan juga tak akan memberikan kelegaan jika Anda memiliki masalah kejiwaan, seperti depresi atau kekhawatiran yang berlebihan. Jika Anda menemukan bahwa Anda merasa lebih parah seusai menangis, sebaiknya temui dokter atau terapis untuk melihat apakah Anda memang memiliki masalah psikis.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau