Tanah ulayat

Warga Memalang Bandara Sentani Papua

Kompas.com - 18/12/2010, 04:27 WIB

Jayapura, Kompas - Sekitar 50 orang dari marga Felle di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Jumat (17/12), menduduki Bandara Sentani. Mereka protes karena ganti rugi atas tanah ulayat tempat bandara dibangun tidak kunjung dibayar.

Aksi dimulai pukul 05.00 WIT. Warga terdiri atas pria dan perempuan dewasa serta anak-anak menerobos pintu bandara dan memblokir landasan pacu.

Setelah satu jam bernegosiasi, aparat Polres Jayapura dan Pangkalan TNI AU berhasil membujuk massa untuk meninggalkan landasan pacu. Mereka digiring ke halaman kantor Administrasi Bandara Sentani.

Akibat aksi, sejumlah jadwal kedatangan dan keberangkatan terganggu.

Menurut Pelaksana Harian Kepala Bandara Sentani Paryono, pesawat Trigana yang seharusnya berangkat ke Wamena pukul 06.00 terpaksa menjadwal ulang penerbangan beberapa jam kemudian. Selain itu, pesawat Garuda dari Jakarta-Denpasar-Timika dan Lion Air dari Jakarta-Makassar tujuan Jayapura dialihkan ke Biak.

”Hal ini demi menjaga keamanan penerbangan,” kata Paryono. Pukul 07.20, landasan pacu sudah dapat digunakan.

Menurut koordinator pengunjuk rasa, Beatrix Yakomina Felle, pemblokiran landasan pacu terpaksa dilakukan karena warga tidak sabar lagi. Mereka telah mengurus dan menanti pencairan pembayaran ganti rugi tanah ulayat untuk bandara sejak lima tahun lalu. ”Kami sudah urus sampai ke Kementerian Perhubungan di Jakarta, juga ke Pemerintah Provinsi Papua, tetapi belum ada titik terang,” katanya.

Ia mengatakan, marga Felle merupakan pemilik tanah ulayat yang digunakan untuk apron dan landasan pacu bandara. Luasnya sekitar delapan hektar. Ia menaksir nilainya Rp 70 miliar.

Dalam aksi, warga membawa bekal makanan dan minuman dengan niat menginap di halaman kantor administrasi bandara hingga tuntutan dikabulkan. Di kantor itu, mereka memalang pintu masuk dan membentangkan spanduk aspirasi. Akibatnya, pegawai kantor bandara tidak dapat masuk untuk bekerja.

Massa juga berorasi di ruang kedatangan Bandara Sentani. Mereka mengancam akan menutup ruang kedatangan dan keberangkatan jika tuntutan mereka tidak digubris.

Warga kemudian berusaha melumpuhkan menara pengendali penerbangan. Namun, hal ini digagalkan aparat polisi. Petugas membubarkan aksi dan mengangkut pendemo ke Kantor Polres Jayapura.

”Demonstrasi atau pemalangan bandara melanggar Undang-Undang Perhubungan,” kata Ajun Komisaris Besar Matius Fakhiri, Kepala Polres Jayapura.

Paryono berjanji akan membantu mediasi pertemuan warga dengan gubernur. (ICH)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau