JAKARTA, KOMPAS.com - Persoalan banjir yang menjadi masalah utama Provinsi DKI Jakarta menginspirasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika untuk membuat modul kurikulum perubahan iklim bagi siswa-siswi SD, SMP, SMA ,dan SMK di DKI Jakarta. Rencananya, modul kurikulum tersebut akan diterapkan pada pertengahan tahun depan.
Demikian diungkapkan Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG Edwin Aldrian, Minggu (19/12/2010), di sela-sela acara Ajang Kreasi ”Gaya Hidup Tanpa Banjir” di Taman Seni Ancol, Jakarta Utara.
”Kurikulum ini akan dimasukkan dalam muatan lokal. Diharapkan, pendidikan tentang perubahan iklim bisa membangun kesadaran publik tentang pentingnya antisipasi perubahan iklim, termasuk banjir,” ujarnya.
Menurut Edwin, selain diterapkan di Jakarta, modul kurikulum perubahan iklim juga akan diterapkan di empat provinsi lain, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Sulawesi Tenggara. Rencananya, modul ini akan dikemas dan disesuaikan dengan kearifan lokal setiap daerah.
”Penyusunan modul kurikulum perubahan iklim kami targetkan selesai pertengahan tahun dan bisa dipraktikkan sekitar bulan Juni 2011,” kata Edwin.
Sementara itu, Wakil Direktur PT Pembangunan Jaya Ancol Agus Rochiyardi mengatakan, sejak tahun 2007 hingga 2010, PT Pembangunan Jaya Ancol bersama sejumlah lembaga swadaya masyarakat juga melakukan sosialisasi tentang antisipasi fenomena perubahan iklim. Kegiatan ini dikemas dalam acara ”Teens Go Green”.
”Para pelajar kami ajak untuk belajar melakukan konservasi alam secara sukarela. Kami berharap mereka bisa menjadi agen perubahan di keluarga dan sekolah,” kata Agus. (ABK)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang