Sekolah Aman Masih Minim

Kompas.com - 20/12/2010, 22:04 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kerusakan atau kerugian di sektor pendidikan saat bencana terbilang tinggi. Kerusakan sekolah akibat bencana alam di Indonesia yang terdata sejak tsunami Aceh tahun 2004 hingga saat ini bisa mencapai mencapai 30-90 persen dari kerusakan sektor lain seperti kesehatan, agama, dan budaya.

Selain itu, Indonesia juga memiliki banyak sekolah di provinsi risiko gempa tinggi. Sebagian besar sekolah dari jenjang SD hingga sekolah menengah terdata berada di daerah rawan bencana, yang terbanyak untuk jenjang pendidikan dasar dari SD dan SMP.

Kesiagaan sekolah menghadapi bencana tidak bisa lagi ditawar-tawar. Bukan hanya untuk menyelamatkan siswa dan guru serta infrastruktur sekolah. Di sisi lain yang terpenting juga untuk tetap menghilangkan kesempatan belajar pada anak.

Kondisi tersebut terungkap dalam Konferensi Nasional Sekolah Aman yang digelar Badan Penanggulangan Bencana (BNPB), Plan Indonesia, dan UNESCO di Jakarta, Senin (20/12/2010). Sekolah Aman merupakan bagian dari kampanye global salah satu badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengkampanyekan satu juta sekolah dan rumah sakit aman di dunia.

Iwan Gunawan, perwakilan dari Bank Dunia, mengatakan jumlah sekolah Indonesia termasuk empat yang terbesar di dunia. Karena itu, sekolah juga mesti diantisipasi untuk memiliki kesiagaan bencana, baik dari struktur bangunan sekolah maupun manajemen kesiagaan sebelum, saat, dan setelah bencana.

Apalagi dari pendataan mulai dari tsunami Aceh, gempa Yogya, banjir Jabodetabek, gempa Bengkulu Sumbar, gempa Jawa Barat, gempa Sumbar, hingga letusan merapi, persentase kerusakan-kerugian di sektor pendidikan terbilang tinggi. "Perlu kajian cepat sekolah-sekolah yang berisiko tinggi terkena bencana maupun kerentanan sekolah itu sendiri," kata Iwan.

Ardito M Kodijat, Disaster Risk Reducation Coordinator UNESCO Office Jakarta, mengatakan di Indonesia memang tidak banyak anak sekolah yang jadi korban saat berada di sekolah. Hal itu, antara lain karena kejadian berbagai bencana ketika tidak jam sekolah.

"Bencana bisa datang kapan saja. Anak-anak di sekolah merupakan kelompok yang rentan menjadi korban jika lingkungan sekolah tidak aman. Kalau kita tidak menyiapkan sekolah, itu hanya akan jadi bom waktu di Indonesia,' kata Ardito.

Ardito mengatakan di dunia terdapat 1,2 miliar siswa. Sebanyak 875 juta siswa, termasuk di Indonesia, berada di daerah rentan gempa bumi. "Sebagian besar kehidupan anak di sekolah, Namun banyak sekolah yang bangunannya tidak sesuai standar," ujar Ardito.

Kampanye sekolah aman untuk aman itu bertujuan untuk menyadarkan banyak orang tentang keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan anak dalam mengenyam pendidikan. Semakin banyak orang yang sadar akan semakin tinggi tuntutan mewujudkan sekolah aman.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau