Prospek ekonomi

Manfaatkan Momentum Pertumbuhan Ekonomi

Kompas.com - 21/12/2010, 02:42 WIB

Jakarta, Kompas - Perekonomian Indonesia tahun 2011 diperkirakan masih terus mengalami perbaikan dan pertumbuhan di kisaran 6,4 persen. Pertumbuhan tersebut diharapkan disumbang oleh percepatan pertumbuhan investasi, pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang stabil, dan pertumbuhan ekspor.

Demikian paparan tentang Prospek Ekonomi Indonesia 2011 yang disampaikan Komite Ekonomi Nasional (KEN) dalam forum khusus yang dihadiri para pengusaha swasta dan pemimpin badan usaha milik negara di Jakarta, Senin (20/12).

Setelah Ketua KEN Chairul Tanjung menyampaikan pengantar, forum itu dilanjutkan dengan penayangan secara visual kondisi ekonomi global dan tantangan ekonomi Indonesia ke depan.

Acara ini baru pertama kali dilakukan KEN setelah organisasi ini dibentuk sekitar enam bulan lalu melalui keputusan presiden. ”Acara ini kami gelar agar para pengusaha tahu betul prospek ekonomi 2011. Dengan demikian, pelaku usaha diharapkan dapat bergerak cepat mengambil langkah strategis sesuai bidang usaha masing-masing,” kata Chairul.

Pada acara tanya jawab dengan pengurus KEN, sebagian penanya mendaulat lembaga ini merumuskan rekomendasi dan usulan konkret yang bisa langsung dilaksanakan pemerintah.

Menjawab hal tersebut, Chairul mengatakan, sesuai dengan mandat yang diberikan kepada KEN, rekomendasi hanya diberikan secara langsung kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Oleh karena itu, seusai menyampaikan pemaparan tersebut, Chairul langsung bertemu dengan Presiden.

”KEN bukan bagian integral pemerintah dan tidak mungkin menjadi agen implementasi kebijakan. Meskipun demikian, KEN akan berusaha keras mendesak Presiden agar rekomendasi yang diberikan KEN bisa dilaksanakan secara tepat guna dan berhasil guna,” ujar Chairul.

Semula, lanjut Chairul, KEN hanya akan menyampaikan hasil kajian terhadap delapan sektor ekonomi nasional. Namun kemudian, Presiden memberikan tugas tambahan kepada KEN untuk membuat rencana induk ekonomi Indonesia.

”Nanti akan ada action plan yang menyangkut sektor-sektor usaha yang akan dikembangkan. Untuk merumuskannya, KEN akan melibatkan asosiasi-asosiasi usaha,” ujar Chairul.

Pada acara tanya jawab, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan mempertanyakan upaya konkret untuk mengatasi rendahnya penyerapan anggaran pemerintah karena hal ini menghambat pertumbuhan ekonomi.

Sementara Ketua Umum Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono menanyakan soal kecepatan perpindahan arus uang dan orang dari satu daerah ke daerah lain dalam kaitannya dengan pembangunan infrastruktur.

Direktur BNI Felia Salim juga menanyakan soal kualitas pertumbuhan ekonomi dan pencapaian Indonesia di tahun 2016.

Sejumlah penanya, seperti Direktur Utama PT Telkom Rinaldi Firmansyah, mempertanyakan usaha dan kriteria untuk mencapai peringkat tertinggi, yakni investment grade.

Komisaris Utama PT PLN Yogo Pratomo mempertanyakan soal kepastian subsidi energi untuk memberikan kepastian kepada PLN.

Berbagai pertanyaan tersebut dijawab secara bergantian oleh Wakil Ketua KEN Chatib Basri dan para anggota KEN lainnya, seperti Raden Pardede, Purbaya Yudhi Sadewa, John A Prasetio, Hermanto Siregar, dan Ninasapti Triaswati.

Menurut Raden Pardede, pengendalian dan mitigasi arus modal serta kemungkinan arus balik disebabkan oleh kesalahan mengantisipasi arus modal tersebut serta kemungkinan terjadinya gejolak keuangan dunia, merupakan risiko yang harus diperhatikan tahun 2011.

”Kesalahan mengambil kebijakan, kelambatan mengambil tindakan, serta kurang koordinasi antarpembuat kebijakan akan dapat berakibat buruk terhadap stabilitas makro yang sudah terjaga selama ini,” ujar Raden Pardede.

Indonesia masuk radar

Pekerjaan rumah yang masih tertunda beberapa tahun ini di antaranya keterbatasan penyediaan infrastruktur, pengendalian pembengkakan subsidi energi, serta daya serap belanja pemerintah. Ini bisa menjadi ancaman terhadap kesinambungan pertumbuhan ekonomi tahun 2011.

Chairul Tanjung menambahkan, pemerintah diharapkan akan melakukan perbaikan sistem, proses, prosedur budgeting dan belanja, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Tahun 2010, Indonesia mulai masuk kembali di dalam radar investasi global. Menurut Chairul, banyak pihak mulai melirik Indonesia dan berbicara mengenai kemungkinan masuknya Indonesia sebagai bagian dari Brasil, Rusia, India, China (BRIC). Indonesia memiliki potensi menjadi negara maju dan unggul dalam pengelolaan kekayaan alam.

”Kami berharap para pengusaha Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini. Jangan sampai justru tak menyadari potensi ini sehingga kesempatan yang ada akhirnya jatuh ke pelaku ekonomi lain yang dapat membaca peluang yang begitu besar di Indonesia,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengemukakan, selama tahun 2010 pengusaha menjadi satu-satunya lokomotif pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pemerintah kehabisan waktu untuk urusan politik. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia paling lambat dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Sofjan mengatakan, tahun 2011, ketidakpastian akan menandai perekonomian Indonesia, meskipun banyak pihak menyebutkan perekonomian mendatang akan semakin membaik.

Hal itu bisa dilihat dari perekonomian di negara-negara besar yang tidak bisa lagi diharapkan mendongkrak perekonomian Indonesia.

Selain itu, perubahan iklim telah mendongkrak kenaikan harga bahan baku pada tingkat yang ekstrem. ”Harga kapas, misalnya, sudah naik lebih dari 100 persen,” ucapnya.

Melihat kondisi tersebut, kerja sama pemerintah dan dunia usaha sangat dibutuhkan. Koordinasi pemerintah pusat dan daerah harus diperbaiki sehingga bisa memotong ekonomi biaya tinggi.

”Tolonglah pemerintah berkonsentrasi ke pembangunan ekonomi. Butuh leadership dari Presiden. Kami berharap tahun 2011 pemerintah berkonsentrasi ke persoalan ekonomi. Kalau tidak, jumlah penganggur akan semakin banyak,” tutur Sofjan.

(GUN/DIS/ARA/OSA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau