Ajakan untuk melihat letusan Gunung Bromo itu disampaikan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Surono dan ahli vulkanologi yang juga Koordinator Pusat Studi Manajemen Bencana, Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno saat dihubungi dari Jakarta, Senin (20/12).
”Meskipun statusnya Siaga dan terjadi letusan, Bromo aman dikunjungi, asalkan wisatawan tidak mendekati kawah Bromo dan berada pada jarak minimal dua kilometer dari kawah,” kata Surono.
Karakter Gunung Bromo berbeda dengan Gunung Merapi. Bromo tidak mengeluarkan awan panas ataupun lelehan lava. Satu-satunya ancaman adalah hujan abu dan kerikil yang menyembur ke atas sekitar 1-2 kilometer dan menyebar sesuai arah angin hingga radius 2-3 kilometer dari kawah atau jatuh di sekitar lautan pasir.
Lontaran abu vulkanik mengarah ke atas sehingga saat turun sudah menjadi dingin. Materi lontarannya pun hanya berupa kerikil atau abu, bukan kerakal atau bongkahan batu.
Gunung Bromo berbentuk kerucut sinder (cinder cone) yang ketinggiannya rendah. Selain itu, kawahnya sudah terbuka sehingga tidak menyimpan energi letusan yang besar. Sifat fisik gunung seperti itu membuat letusan Bromo tak berbahaya.
”Letusan ini justru fenomena yang menarik untuk dilihat dan dinikmati karena tidak semua gunung api yang sedang meletus bisa didekati. Dengan mengunjungi Bromo, kita bisa tahu bagaimana proses letusan gunung api,” tambah Eko.
Menurut Surono dan Eko Teguh Paripurno, kampanye yang dilakukan pemerintah daerah setempat mestinya dengan mengajak orang menyaksikan letusan Bromo pada jarak tertentu, bukan mengungsikan warga.
Saat ini juga merupakan momentum terbaik bagi pencinta fotografi untuk mengabadikan keindahan Bromo dalam kondisi yang berbeda.
Meskipun demikian, efek dari abu Bromo sama dengan abu gunung vulkanik lainnya, seperti mengandung silika dan berbau belerang menyengat. Namun, hal itu tidak seharusnya membuat masyarakat takut mendatangi gunung berapi.
Untuk menghindari dampak abu, lanjut Eko, masyarakat cukup menggunakan sapu tangan yang dibasahi untuk menutup hidung dan mulut, memakai kacamata penghalang debu, serta memakai topi. Jika posisi wisatawan berbeda dengan arah angin, maka ia cukup aman dari pengaruh abu vulkanik Bromo.
Gunung Bromo memiliki tinggi 2.329 meter di atas permukaan laut. Gunung ini adalah gunung termuda dari lima gunung yang ada di atas Kaldera Tengger. Gunung-gunung di atas Kaldera Tengger terbentuk sekitar 820.000 tahun lalu, sedangkan lautan pasirnya terbentuk pada akhir masa Pleistosen dan awal masa Holosen.