Letusan Bromo Tidak Berbahaya

Kompas.com - 21/12/2010, 02:57 WIB

Jakarta, Kompas - Meskipun Gunung Bromo di Provinsi Jawa Timur sedang meletus, letusannya tergolong tidak berbahaya. Justru terjadinya letusan Bromo merupakan kesempatan terbaik untuk mempelajari dan mengabadikan letusan gunung berapi tersebut.

Ajakan untuk melihat letusan Gunung Bromo itu disampaikan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Surono dan ahli vulkanologi yang juga Koordinator Pusat Studi Manajemen Bencana, Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno saat dihubungi dari Jakarta, Senin (20/12).

”Meskipun statusnya Siaga dan terjadi letusan, Bromo aman dikunjungi, asalkan wisatawan tidak mendekati kawah Bromo dan berada pada jarak minimal dua kilometer dari kawah,” kata Surono.

Karakter Gunung Bromo berbeda dengan Gunung Merapi. Bromo tidak mengeluarkan awan panas ataupun lelehan lava. Satu-satunya ancaman adalah hujan abu dan kerikil yang menyembur ke atas sekitar 1-2 kilometer dan menyebar sesuai arah angin hingga radius 2-3 kilometer dari kawah atau jatuh di sekitar lautan pasir.

Lontaran abu vulkanik mengarah ke atas sehingga saat turun sudah menjadi dingin. Materi lontarannya pun hanya berupa kerikil atau abu, bukan kerakal atau bongkahan batu.

Gunung Bromo berbentuk kerucut sinder (cinder cone) yang ketinggiannya rendah. Selain itu, kawahnya sudah terbuka sehingga tidak menyimpan energi letusan yang besar. Sifat fisik gunung seperti itu membuat letusan Bromo tak berbahaya.

”Letusan ini justru fenomena yang menarik untuk dilihat dan dinikmati karena tidak semua gunung api yang sedang meletus bisa didekati. Dengan mengunjungi Bromo, kita bisa tahu bagaimana proses letusan gunung api,” tambah Eko.

Menurut Surono dan Eko Teguh Paripurno, kampanye yang dilakukan pemerintah daerah setempat mestinya dengan mengajak orang menyaksikan letusan Bromo pada jarak tertentu, bukan mengungsikan warga.

Saat ini juga merupakan momentum terbaik bagi pencinta fotografi untuk mengabadikan keindahan Bromo dalam kondisi yang berbeda.

Meskipun demikian, efek dari abu Bromo sama dengan abu gunung vulkanik lainnya, seperti mengandung silika dan berbau belerang menyengat. Namun, hal itu tidak seharusnya membuat masyarakat takut mendatangi gunung berapi.

Untuk menghindari dampak abu, lanjut Eko, masyarakat cukup menggunakan sapu tangan yang dibasahi untuk menutup hidung dan mulut, memakai kacamata penghalang debu, serta memakai topi. Jika posisi wisatawan berbeda dengan arah angin, maka ia cukup aman dari pengaruh abu vulkanik Bromo.

Gunung Bromo memiliki tinggi 2.329 meter di atas permukaan laut. Gunung ini adalah gunung termuda dari lima gunung yang ada di atas Kaldera Tengger. Gunung-gunung di atas Kaldera Tengger terbentuk sekitar 820.000 tahun lalu, sedangkan lautan pasirnya terbentuk pada akhir masa Pleistosen dan awal masa Holosen. (MZW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau