Lelang MRT Mulai Pertengahan 2011

Kompas.com - 21/12/2010, 17:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menargetkan proses lelang pembangunan fisik proyek mass rapid transit atau MRT bisa dimulai pada pertengahan tahun depan. Proyek MRT ini akan dirancang tahan terhadap fenomena penurunan tanah di Ibu Kota.

Guna mempersiapkan dokumen tender pengerjaan fisik MRT tersebut, Fauzi Bowo telah bertemu dengan Presiden PT Nippon Koei, Noriaki Hirose, untuk menyepakati desain teknis akhir dari stasiun dan lajur MRT. Nippon Koei merupakan konsultan yang ditunjuk oleh Kementerian Perhubungan RI untuk merancang detail teknis MRT di Jakarta.

"Perusahaan itu telah menyelesaikan desain teknisnya dan (desain) telah diberikan kepada Pemerintah Pusat dan DKI. Secara prinsip, kami sudah menyetujui," kata Fauzi Bowo di Balai Kota DKI, Selasa (21/12/2010).

"Tahun 2011 nanti yang jelas penyelesaian tender dokumen pada semester pertama akan selesai. Kita berharap, pertengahan tahun depan atau semester II, tender itu akan dibuka dan dilaksanakan," jelasnya.

Di tempat terpisah, Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tribudi Rahardjo mengatakan, MRT akan dirancang sedemikian rupa tidak terganggu oleh dampak yang ditimbulkan dari fenomena amblesnya tanah di Jakarta.

Untuk itu, kata Tribudi, PT MRT Jakarta terus mengkaji potensi gangguan terhadap ketahanan MRT akibat penurunan tanah maupun fenomena alam lain seperti banjir dan perubahan iklim. Kajian ini nantinya akan menjadi bahan masukan dalam penyusunan strategic safety dan security plan proyek MRT di Jakarta.

"Sebagai moda transportasi massal, maka keamanan menjadi utama. Unsur-unsur safety, availability, maintainability, dan reliability mutlak dilekatkan pada MRT sehingga unsur-unsur ini selalu diutamakan dalam tiap aspek pembangunan MRT Jakarta baik dari tahap awal perencanaan sampai ke tahap operasi dan pemeliharaan," kata Tribudi.

Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Energi DKI pada 60 titik pantau, permukaan tanah di Jakarta mengalami penurunan cukup signifikan dalam kurun delapan tahun terakhir. Kawasan di sekitar Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, turun hingga 15 cm pada periode tersebut, sementara kawasan Muara Baru di Jakarta ambles hingga 116 cm pada kurun yang sama.

Proyek MRT rencananya akan dibuat dalam dua koridor yang membentang dari selatan-utara dan timur-barat Jakarta. Untuk pembangunan koridor selatan-utara tahap I (Lebak Bulus - Bundaran Hotel Indonesia), Pemprov DKI akan membebaskan tanah sepanjang 15,2 kilometer. Pada tahap I ini, rencananya akan dibangun 13 stasiun, yakni tujuh stasiun layang dan enam stasiun bawah tanah.

Pembangunan fisik tahap I ini direncanakan bisa dipercepat pada akhir 2011 dan selesai pada 2016 dengan biaya mencapai 144,322 miliar yen atau Rp 15 triliun. Dana meliputi dana pinjaman dari sebesar 120,017 miliar yen dan sisanya diambil dari APBN dan APBD sebesar 24,305 miliar yen.

Adapun tahap II (Bundaran HI - Kampung Bandan) sepanjang 8,1 km direncanakan mulai dibangun pada 2014 dan selesai pada 2018. Koridor timur-barat saat ini dalam tahap pra-studi kelayakan dan ditargetkan paling lambat beroperasi pada 2024-2027.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau