Jakarta, Kompas
Namun, kondisi perekonomian tahun depan akan dibarengi dengan ketidakstabilan moneter, seperti inflasi yang tinggi.
”Karena itu, ada kemungkinan Bank Indonesia (BI) akan menetapkan BI Rate (suku bunga acuan BI) lebih tinggi dari 6,5 persen,” ujar Kepala Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI Darwin Syamsulbahri dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (21/12).
Menurut dia, tekanan inflasi akan memaksa BI menaikkan BI Rate dan hal ini akan berdampak kontraproduktif pada perkembangan sektor riil.
Darwin mengungkapkan, kenaikan BI Rate akan merangsang masuknya uang panas (hot money) yang diinvestasikan di pasar modal dan pasar uang ke dalam perekonomian nasional.
”Akibatnya, penguatan pada kurs rupiah akan sulit dihindari yang pada gilirannya akan membuat daya saing produk ekspor Indonesia menurun,” katanya.
Sementara itu, peneliti P2E LIPI, Agus Eko Nugroho, mengungkapkan, tak terdapat korelasi kuat antara pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk miskin.
”Penduduk miskin menurun selama 2010, penyebab utamanya karena adanya upaya pemerintah melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Efektivitas PNPM itu sendiri masih dapat diperdebatkan,” ungkap Agus Eko Nugroho.