Piet Hitam Memburu "Gayus"

Kompas.com - 22/12/2010, 15:38 WIB

Ketika Sinterklas membagikan bungkusan sembako kepada para pengayuh becak, serombongan kawanan ”Gayus” diam-diam mengambil sejumlah bungkusan. Mereka pakai tanda pengenal bertulis ”Pembohong”, ”Pemalas”, ”Pencontek”, dan ”Koncone Gayus”.

Namun, tindakan itu diketahui piet hitam, asisten Sinterklas. Dengan berpakaian serbahitam sembari membawa tongkat pemukul dan karung bergambar wajah Gayus, piet hitam menangkap dan menggiring kawanan ”Gayus” itu di hadapan para pengayuh becak.

Dua di antara mereka diminta menyunggi (membawa barang dengan meletakkan di atas kepala) barang bukti penggelapan sembari berjalan jongkok. Sementara yang lain dipukul piet hitam dengan tongkatnya.

Begitu fragmen singkat yang digelar para siswa SMP Keluarga Kudus, Kabupaten Kudus, Senin (20/12), di halaman sekolah. Aksi yang dibarengi dengan pembagian 250 sembako kepada pengayuh becak itu merupakan refleksi Natal sekaligus peringatan Hari Pendidikan Antikorupsi.

Kepala SMP Keluarga Kudus M Basuki Sugita mengatakan, SMP Keluarga Kudus sejak empat tahun lalu berkomitmen menyelenggarakan pendidikan antikorupsi. Tujuannya menanamkan semangat antikorupsi kepada siswa.

Misalnya, menanam budaya tidak mencontek, mendirikan warung telepon kejujuran dan kantin kejujuran, memberi tahu buruknya perilaku koruptor dan sanksi hukumnya. Pada Natal tahun ini, sekolah merefleksikan semangat antikorupsi lewat fragmen ”Sinterklas, Piet Hitam, dan Gayus”.

”Sinterklas merupakan tokoh yang mau berbagi kepada sesama, piet hitam adalah asisten Sinterklas yang suka menakut-nakuti anak-anak nakal agar jera, dan Gayus merupakan simbol korupsi dalam kacamata siswa,” kata Basuki.

Melalui tokoh piet hitam, Basuki menambahkan, anak-anak pemalas, pembohong, suka mencontek, dan suka jajan tapi tidak membayar ditertibkan. Pasalnya, sifat dan tindakan itu merupakan akar dari korupsi.

Pemeran Sinterklas, Raymond Wibisono, siswa Kelas VIII SMP Keluarga Kudus, mengakui kegiatan itu menjadi ajang peduli sesama sekaligus koreksi diri.

Pengayuh becak asal Desa Mlati Norowito, Kecamatan Kota, Simbud (25), mengaku terkesan dengan aksi para siswa. ”Saya berharap para koruptor diberantas sehingga uang untuk rakyat kecil tidak dipangkas,” ujarnya. (HENDRIYO WIDI)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau