Namun, tindakan itu diketahui piet hitam, asisten Sinterklas. Dengan berpakaian serbahitam sembari membawa tongkat pemukul dan karung bergambar wajah Gayus, piet hitam menangkap dan menggiring kawanan ”Gayus” itu di hadapan para pengayuh becak.
Dua di antara mereka diminta menyunggi (membawa barang dengan meletakkan di atas kepala) barang bukti penggelapan sembari berjalan jongkok. Sementara yang lain dipukul piet hitam dengan tongkatnya.
Begitu fragmen singkat yang digelar para siswa SMP Keluarga Kudus, Kabupaten Kudus, Senin (20/12), di halaman sekolah. Aksi yang dibarengi dengan pembagian 250 sembako kepada pengayuh becak itu merupakan refleksi Natal sekaligus peringatan Hari Pendidikan Antikorupsi.
Kepala SMP Keluarga Kudus M Basuki Sugita mengatakan, SMP Keluarga Kudus sejak empat tahun lalu berkomitmen menyelenggarakan pendidikan antikorupsi. Tujuannya menanamkan semangat antikorupsi kepada siswa.
Misalnya, menanam budaya tidak mencontek, mendirikan warung telepon kejujuran dan kantin kejujuran, memberi tahu buruknya perilaku koruptor dan sanksi hukumnya. Pada Natal tahun ini, sekolah merefleksikan semangat antikorupsi lewat fragmen ”Sinterklas, Piet Hitam, dan Gayus”.
”Sinterklas merupakan tokoh yang mau berbagi kepada sesama, piet hitam adalah asisten Sinterklas yang suka menakut-nakuti anak-anak nakal agar jera, dan Gayus merupakan simbol korupsi dalam kacamata siswa,” kata Basuki.
Melalui tokoh piet hitam, Basuki menambahkan, anak-anak pemalas, pembohong, suka mencontek, dan suka jajan tapi tidak membayar ditertibkan. Pasalnya, sifat dan tindakan itu merupakan akar dari korupsi.
Pemeran Sinterklas, Raymond Wibisono, siswa Kelas VIII SMP Keluarga Kudus, mengakui kegiatan itu menjadi ajang peduli sesama sekaligus koreksi diri.
Pengayuh becak asal Desa Mlati Norowito, Kecamatan Kota, Simbud (25), mengaku terkesan dengan aksi para siswa. ”Saya berharap para koruptor diberantas sehingga uang untuk rakyat kecil tidak dipangkas,” ujarnya.