Aktivitas gunung berapi

Waspada, Abu Vulkanik Bromo Semakin Tebal

Kompas.com - 23/12/2010, 04:22 WIB

Probolinggo, Kompas - Erupsi Gunung Bromo di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, hingga Rabu (22/12) berlangsung terus-menerus. Gempa tremor yang terjadi rata-rata dengan amplitudo 30 milimeter disertai hujan abu vulkanik dan pasir sehingga masyarakat diimbau untuk waspada.

Dalam waktu 12 jam, daerah yang terkena abu vulkanik tertutup debu dengan ketebalan sekitar 5 sentimeter.

Hujan abu vulkanik dan pasir menutup jalan menuju Bromo. Sejumlah dahan pohon dan kabel listrik juga ada yang melintang ke jalan sehingga menyulitkan kendaraan yang lewat. Ketebalan debu dan pasir mencapai 5-20 cm.

Sejumlah hotel pun ditutup. Abu menembus hingga ruangan restoran, bar, dan kantor. Hotel Lava View, misalnya, hanya mempekerjakan lima laki-laki untuk berjaga-jaga.

Menurut petugas pemantau Bromo di Pos Pemantauan Cemorolawang, Mulyono, ketinggian asap mencapai 1.200 meter.

Hujan abu dan pasir pun menutup areal tanaman di sejumlah desa, seperti Ngadisari, Wonoroto, Jetak, Ngadas, Wonokerto, dan Ngadirejo. Kentang, tomat, cabai, kubis, jagung, pisang, dan bawang tertutup debu. Bahkan, bambu dan cemara banyak yang tumbang.

Usnomo, warga Wonokerto, menyebutkan, kerugian tanaman kentang bisa Rp 20 juta per hektar, sedangkan bawang antara Rp 35 juta dan Rp 40 juta per hektar. ”Tanaman tidak bisa diapa-apakan lagi,” katanya.

Cepat dibersihkan

Kepala Bidang Pengamatan Gempa Bumi dan Gerakan Tanah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Gde Suantika menyebutkan, warga harus tanggap dan cepat membersihkan rumah kalau terkena hujan abu. Abu vulkanik yang menumpuk di atap-atap rumah ditambah terkena gerimis akan memadatkan abu. Jika menumpuk dan padat, atap rumah berpotensi ambruk karena beban terlalu berat.

”Abu vulkanik dan hujan pasir menjadi masalah utama yang harus diwaspadai,” kata Gde.

Untuk memonitor keamanan warga sekitar, Kepolisian Resor Probolinggo menyiagakan dua mobil dobel gardan. Dua kendaraan itu berpatroli di kawasan yang terkena hujan abu vulkanik. ”Kalau hujan abu tebal, mobil patroli berkeliling untuk mengingatkan warga agar masuk ke rumah dan memakai masker,” kata Kepala Polres Probolinggo Ajun Komisaris Besar Zulfikar.

Sementara itu semburan abu vulkanik dari kepundan Gunung Raung di Kabupaten Banyuwangi mulai berkurang. Namun, Camat Songgon Suyanto Wasto Gondo Wicaksono tetap membagikan masker kepada warga.

Balok Suryadi, Kepala Pos Pengamatan Gunung Raung di Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, mengatakan, puncak gunung tertutup kabut. Akibatnya, petugas belum bisa melihat langsung semburan asap dari kepundan. (ACI/BEE/SIR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau