Probolinggo, Kompas -
Dalam waktu 12 jam, daerah yang terkena abu vulkanik tertutup debu dengan ketebalan sekitar 5 sentimeter.
Hujan abu vulkanik dan pasir menutup jalan menuju Bromo. Sejumlah dahan pohon dan kabel listrik juga ada yang melintang
Sejumlah hotel pun ditutup. Abu menembus hingga ruangan restoran, bar, dan kantor. Hotel Lava View, misalnya, hanya mempekerjakan lima laki-laki untuk berjaga-jaga.
Menurut petugas pemantau Bromo di Pos Pemantauan Cemorolawang, Mulyono, ketinggian asap mencapai 1.200 meter.
Hujan abu dan pasir pun menutup areal tanaman di sejumlah desa, seperti Ngadisari, Wonoroto, Jetak, Ngadas, Wonokerto, dan Ngadirejo. Kentang, tomat, cabai, kubis, jagung, pisang, dan bawang tertutup debu. Bahkan, bambu dan cemara banyak yang tumbang.
Usnomo, warga Wonokerto, menyebutkan, kerugian tanaman kentang bisa Rp 20 juta per hektar, sedangkan bawang antara Rp 35 juta dan Rp 40 juta per hektar. ”Tanaman tidak bisa diapa-apakan lagi,” katanya.
Kepala Bidang Pengamatan Gempa Bumi dan Gerakan Tanah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Gde Suantika menyebutkan, warga harus tanggap dan cepat membersihkan rumah kalau terkena hujan abu. Abu vulkanik yang menumpuk di atap-atap rumah ditambah terkena gerimis akan memadatkan abu. Jika menumpuk dan padat, atap rumah berpotensi ambruk karena beban terlalu berat.
”Abu vulkanik dan hujan pasir menjadi masalah utama yang harus diwaspadai,” kata Gde.
Untuk memonitor keamanan warga sekitar, Kepolisian Resor Probolinggo menyiagakan dua mobil dobel gardan. Dua kendaraan itu berpatroli di kawasan yang terkena hujan abu vulkanik. ”Kalau hujan abu tebal, mobil patroli berkeliling untuk mengingatkan warga agar masuk ke rumah dan memakai masker,” kata Kepala Polres Probolinggo Ajun Komisaris Besar Zulfikar.
Sementara itu semburan abu vulkanik dari kepundan Gunung Raung di Kabupaten Banyuwangi mulai berkurang. Namun, Camat Songgon Suyanto Wasto Gondo Wicaksono tetap membagikan masker kepada warga.
Balok Suryadi, Kepala Pos Pengamatan Gunung Raung di Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, mengatakan, puncak gunung tertutup kabut. Akibatnya, petugas belum bisa melihat langsung semburan asap dari kepundan.