Denisovans

Manusia Purba Spesies Baru dari Siberia

Kompas.com - 23/12/2010, 14:41 WIB

KOMPAS.com — Bulan Maret yang lalu, dunia dikejutkan dengan hasil analisis DNA mitokondria dari fosil tulang dan gigi yang ditemukan di Gua Denisova, wilayah Siberia. Hasil analisis mengungkap bahwa materi genetik yang terkandung dalam fosil tulang dan gigi itu berbeda dengan materi genetik pada manusia modern dan manusia purba Neanderthals.

Para ilmuwan dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology (MPI EVA) di Leipzig, Jerman, yang terlibat dalam penelitian itu pun menduga bahwa fosil itu berasal dari manusia purba jenis baru. Namun, kala itu mereka diingatkan oleh ilmuwan lain agar tak mengambil kesimpulan terlalu cepat mengenai kebaruan spesies manusia tersebut.

Berusaha untuk meyakinkan, para ilmuwan dari MPI EVA pun melakukan penelitian lebih lanjut. Memakai sampel yang sama, mereka mengekstrak DNA inti, menganalisis untaiannya, dan membandingkan dengan DNA Neanderthals dan manusia modern. Hasil analisis tersebut dipublikasikan di Jurnal Nature, Rabu (22/12/2010).

Berdasarkan hasil analisis, fosil yang berasal dari Siberia itu terbukti sebagai manusia jenis baru. Para ilmuwan menamakannya "Denisovans", sama seperti nama gua tempat fosil ditemukan. Dikatakan, manusia purba jenis baru tersebut memiliki relasi lebih dekat dengan Neanderthals daripada dengan manusia modern.

Richard Green dari Universitas California, Santa Cruz, yang memimpin analisis DNA mengatakan, "Cerita evolusi manusia kini menjadi lebih rumit. Alih-alih mengetahui dengan jelas bagaimana manusia keluar dari Afrika, kita malah melihat pemain baru dalam cerita itu serta interaksi yang tak kita ketahui sebelumnya."

Green mengatakan, Neanderthals dan Denisovans memiliki moyang yang sama. Diperkirakan, 300.000-400.000 tahun yang lalu, sekelompok manusia purba bergerak ke luar Afrika dan segera terspesiasi, grup yang bergerak ke Eropa menjadi Neanderthals, dan yang bergerak ke arah timur menjadi Denisovans.

Sementara spesies manusia modern sendiri bergerak ke luar Afrika pada 70.000-80.000 tahun yang lalu. Mereka juga diperkirakan berinteraksi dan melakukan perkawinan dengan Neanderthals dan Denisovans. Aktivitas perkawinan antara manusia modern dan kedua spesies manusia lainnya juga terbukti dalam penelitian ini.

Dengan disahkannya Denisovans sebagai spesies manusia baru, kini ilmu pengetahuan mengenal 3 jenis manusia yang hidup sezaman dan berinteraksi dengan manusia modern. Mereka adalah Denisovans, Neanderthals, dan Homo floresiensis atau The Hobbit yang ditemukan di Flores, Indonesia, pada tahun 2004 yang lalu.

Fosil yang digunakan dalam penelitian pertama kali ditemukan oleh arkeolog Rusia. Awalnya, tak ada yang menaruh perhatian pada fosil ini. Hingga akhirnya, MPI EVA yang dipimpin oleh Svante Paabo mulai menelitinya. Di samping kebaruan spesies Denisovans, peneliti juga menemukan bahwa Denisovans pernah kawin dengan manusia di Papua Niugini dan Melanesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau