Bendera robek

PSSI Telah Menghina Simbol Negara?

Kompas.com - 23/12/2010, 16:38 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Selain kecewa dengan habisnya tiket final kategori I, massa juga mengecam PSSI karena membiarkan bendera raksasa Merah Putih yang menyelimuti kantor asosasi sepak bola tertinggi di Indonesia itu dibiarkan robek.

Bendera raksasa yang berukuran 40 x 20 meter tersebut dipasang menyelimuti kantor PSSI sejak Rabu (22/12/2010). Entah kenapa bendera raksasa tersebut terlihat robek sejak pagi tadi.

Kontan saja, massa yang emosi karena tidak kebagian tiket semakin emosi. Mereka menilai PSSI telah melakukan penghinaan dengan membiarkan bendera tersebut koyak. "Ini salah satu bentuk PSSI enggak becus. Masa bendera sobek dibiarkan. Ini sangat menghina, Mas," tukas Muslimin, anggota Korps Bela Negara Binaan Korem 143/HO Kendari.

Panitia pun langsung bertindak dengan mencopot bendera tersebut dengan diiringi teriakkan massa. "Woy, itu bendera masa nyentuh tanah," seru salah seorang suporter.

Berdasarkan informasi, bendera raksasa tersebut diprakarsai oleh Masyarakat Sepak Bola Indonesia (MSBI). Menurut Ketua MSBI, Sarman, bendera yang menghabiskan dana Rp 12 juta itu dipasang untuk laga final.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau