Krisis korea

Hubungan Dua Korea Bisa Makin Memburuk

Kompas.com - 24/12/2010, 03:21 WIB

SEOUL, KAMIS - Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Gubernur New Mexico Bill Richardson, memperingatkan kekerasan yang sangat mungkin terjadi antarkedua Korea, yang sampai sekarang berseteru, terutama jika keduanya sama-sama tidak mampu menahan diri.

Seusai perjalanannya ke Korea Utara beberapa waktu lalu, terkait pendekatan damai yang tengah dijalankannya di Semenanjung Korea, Richardson mengaku khawatir aksi mobilisasi kekuatan militer Korsel yang semakin sering digelar dalam bentuk latihan perang beberapa waktu belakangan ini justru dapat merusak situasi yang dinilainya mulai membaik.

Dari beberapa kali pengalamannya berkunjung dan melakukan perjalanan ke Korut dan Korsel, Richardson mengategorikan situasi saat ini adalah yang paling buruk dari yang pernah dia lihat sebelumnya terjadi di Semenanjung Korea.

”Situasinya memang masih sangat rentan mengingat masih besarnya tekanan dan ketidakpercayaan. Yang saya yakini, jalan diplomasi adalah satu-satunya cara untuk keluar dari kondisi seperti itu. Walau lelah, saya merasa masih punya harapan pasca- pertemuan kemarin dengan para pejabat Korut,” ujar Richardson.

Menurut Richardson, Korut sebenarnya telah menunjukkan sikap ingin berdamai beberapa minggu terakhir ini, termasuk dengan menahan diri untuk tidak melakukan serangan menyusul beberapa kali latihan perang yang digelar Korsel.

Mereka juga memberikan sinyal bersedia menerima tim inspeksi Badan Tenaga Atom PBB untuk memeriksa fasilitas pengayaan nuklirnya, termasuk juga membuka hubungan langsung khusus (hotline) antarkedua negara dalam upaya mencegah potensi krisis.

”Sejumlah perbincangan yang saya lakukan dengan Korut mengindikasikan mereka sebenarnya siap membuka lembaran baru sekaligus karena mereka mengakui selama ini telah bersikap keterlaluan,” ujar Richardson, yang juga menyinggung soal tenggelamnya kapal perang Korsel dan peningkatan aktivitas nuklir Korut selama ini.

”Isolasi yang mereka lakukan kepada diri mereka sendiri, bungker mentalitas yang selama ini mereka bangun, sama sekali tidak ada hasilnya. Rakyat mereka kelaparan dan butuh pekerjaan. Mereka butuh untuk keluar dari sanksi yang dijatuhkan atas mereka. Saya percaya mereka sudah sadar kalau harus berubah,” ujar Richardson.

Meski begitu, pendapat lain dari sejumlah analis meyakini sikap diam dan menahan diri yang diperlihatkan Korut belakangan hanya bersifat sementara sampai serangan militer kembali mereka lancarkan. Hal itu disampaikan pakar Korut, Peter Beck, dari Dewan Hubungan Luar Negeri berbasis di Washington DC, AS.

Dengan begitu, tambah Beck, pertanyaan yang harus dipikirkan sekarang adalah bukan soal ”apakah” serangan akan kembali dilakukan, melainkan ”kapan” serangan baru bakal dilancarkan lagi oleh Korut, seperti mereka lakukan di Pulau Yeonpyeong pada 23 November lalu. (AP/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau