SEOUL, KAMIS -
Seusai perjalanannya ke Korea Utara beberapa waktu lalu, terkait pendekatan damai yang tengah dijalankannya di Semenanjung Korea, Richardson mengaku khawatir aksi mobilisasi kekuatan militer Korsel yang semakin sering digelar dalam bentuk latihan perang beberapa waktu belakangan ini justru dapat merusak situasi yang dinilainya mulai membaik.
Dari beberapa kali pengalamannya berkunjung dan melakukan perjalanan ke Korut dan Korsel, Richardson mengategorikan situasi saat ini adalah yang paling buruk dari yang pernah dia lihat sebelumnya terjadi di Semenanjung Korea.
”Situasinya memang masih sangat rentan mengingat masih besarnya tekanan dan ketidakpercayaan. Yang saya yakini, jalan diplomasi adalah satu-satunya cara untuk keluar dari kondisi seperti itu. Walau lelah, saya merasa masih punya harapan pasca- pertemuan kemarin dengan para pejabat Korut,” ujar Richardson.
Menurut Richardson, Korut sebenarnya telah menunjukkan sikap ingin berdamai beberapa minggu terakhir ini, termasuk dengan menahan diri untuk tidak melakukan serangan menyusul beberapa kali latihan perang yang digelar Korsel.
Mereka juga memberikan sinyal bersedia menerima tim inspeksi Badan Tenaga Atom PBB untuk memeriksa fasilitas pengayaan nuklirnya, termasuk juga membuka hubungan langsung khusus (hotline) antarkedua negara dalam upaya mencegah potensi krisis.
”Sejumlah perbincangan yang saya lakukan dengan Korut mengindikasikan mereka sebenarnya siap membuka lembaran baru sekaligus karena mereka mengakui selama ini telah bersikap keterlaluan,” ujar Richardson, yang juga menyinggung soal tenggelamnya kapal perang Korsel dan peningkatan aktivitas nuklir Korut selama ini.
”Isolasi yang mereka lakukan kepada diri mereka sendiri, bungker mentalitas yang selama ini mereka bangun, sama sekali tidak ada hasilnya. Rakyat mereka kelaparan dan butuh pekerjaan. Mereka butuh untuk keluar dari sanksi yang dijatuhkan atas mereka. Saya percaya mereka sudah sadar kalau harus berubah,” ujar Richardson.
Meski begitu, pendapat lain dari sejumlah analis meyakini sikap diam dan menahan diri yang diperlihatkan Korut belakangan hanya bersifat sementara sampai serangan militer kembali mereka lancarkan. Hal itu disampaikan pakar Korut, Peter Beck, dari Dewan Hubungan Luar Negeri berbasis di Washington DC, AS.
Dengan begitu, tambah Beck, pertanyaan yang harus dipikirkan sekarang adalah bukan soal ”apakah” serangan akan kembali dilakukan, melainkan ”kapan” serangan baru bakal dilancarkan lagi oleh Korut, seperti mereka lakukan di Pulau Yeonpyeong pada 23 November lalu.